Advaya Fathin Satriya

Alhamdulillah,

Telah lahir anak laki-laki pertama kami,
yang bernama :

ADVAYA FATHIN SATRIYA *
di RS Islam Jakarta Pusat
pada hari Senin, 12 Februari 2007
pukul 21.35 WIB




Mohon doa & restunya, agar anak kami dapat menjadi anak yang soleh, berguna bagi nusa & bangsa.
Semoga juga, kami dapat mengemban amanah dari Allah SWT & karunia yang tidak ternilai harganya ini dapat menjadi ladang amal yang baik bagi kami berdua. Amin


Jakarta, 14 Februari 2007

Nurul Wibawa Cahya Buana (Cahyo)
&
Sita Dewi (Sita)


* Note :
Advaya (dari bahasa Sansekerta) = Unik
Fathin (dari bahasa Arab) = Cerdas, Pintar
Satriya (dari bahasa Jawa) = keturunan baik-baik, elite

Saatnya tebar tindakan nyata dengan berdonor bagi sesama

Pasca banjir, banyak penyakit yang perlu diwaspadai. Salah satunya adalah demam berdarah. Di beberapa daerah bahkan sudah menjadi wabah yang semakin meluas. Dengan semakin merebaknya demam berdarah (DBD), kebutuhan akan darah pun juga semakin meningkat. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan persediaan darah yang cukup. Dari berbagai media terungkap, PMI kekurangan stok darah dari berbagai golongan. Permintaan tinggi sementara persediaan sedikit. Bahkan, golongan darah yang paling banyak dan paling gampang dicarinya yaitu golongan darah O pun juga sudah sangat susah mencarinya.

Tentu, kita semua tidak boleh berdiam diri melihatnya. Jargon 3 M : Membersihan,Menguras dan Menimbun harus terus dikampanyekan,terlebih pasca banjir ini. Bagi anda yang sudah pernah berdonor, kini saat yang tepat untuk membantu sesama. Sumbangkanlah darah anda bagi mereka yang membutuhkan. Hubungi PMI daerah terdekat. Bagi yang belum pernah sama sekali berdonor dengan berbagai macam alasan takut jarum suntik dan sejenisnya, buang jauh-jauh anggapan tersebut. Jujur saja, pertama kali saya mendonorkan darah, perasaan takut seperti itu ada. Wajar menurut saya kalau sampai terjadi demikian . Bahkan, sampai donor darah yang kedua bulan November 2006 kemarin ketika majalah Goodhousekeeping edisi Indonesia mengadakan donor darah massal dan saya mengikutinya, perasaan takut itu masih tetap saja ada dan sampai sekarang ini !!! Karena pada dasarnya, saya sangat takut sekali dengan jarum suntik (perawakan preman, keberanian gak sepadan. Hihihi...). Namun, niat untuk membantu sesama mengalahkan rasa takut saya. Bahagia tidak terkira bila saya dapat membantu sesama dengan menyelamatkan nyawa seseorang dengan darah yang saya berikan (tentu, dengan ridho dari-Nya).


Saya tidak mau dibilang NATO (Not Action Talk Only). Saya pun akan berdonor langsung bagi anda keluarga pasien penderita DBD atau korban banjir yang membutuhkan dengan domisili di Jabotabek terutama yagn sangat membutuhkan darah sekarang ini. Golongan Darah saya O dengan rhesus positif. Gaya hidup saya sangat sehat dan alhamdulillah tidak mempunyai penyakit yang serius seperti AIDS dan sejenisnya. Tidak merokok, olahraga seminggu 2 kali, tidur dan makan cukup. Berhubung darah yang akan saya sumbangkan GRATIS ini hanya terbatas, (tentu, tidak semua darah yang ada di dalam tubuh saya akan disedot bukan?) saya akan memberikan kepada anda yang pertama kali menghubungi email kepada saya untuk pertama kalinya (lihat box email di kanan tulisan ini). First request, first serve. Oya, supaya tidak jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat calo darah, anda harus dapat meyakinkan saya bahwa anda adalah keluarga pasien dan bukannya calo. Terserah bagaimana caranya. Yang jelas, saya siap untuk diambil darahnya, kapan saja. Untuk koordinasi selanjutnya, kita bicarakan secara pribadi melalui email atau melalui telepon nanti.


Keinginan saya yang utama adalah benar-benar murni untuk membantu sesama dan mudah-mudahan dengan cara ini, saya dapat menambah persaudaraan dengan keluarga pasien yang membutuhkan terutama.


Jadi, kapan anda mulai mendonorkan darah anda untuk membantu sesama?



Foto :
website dinkes dki



Sepenggal cerita dari Banjir Jakarta















Indahnya hidup di Jakarta (Bagian 2 - Habis)

*maaf telat update. baru dapat akses internet Jumat,9/02/2007. itupun di warnet. selama hampir seminggu, kegiatan di kantor hampir dapat dikatakan lumpuh total. internet mati, litrik mati, telepon mati, pam mati*


Setelah melihat kantor sepi, saya putuskan untuk melihat ruangan saya dulu sebentar, apakah turut menjadi korban akibat keganasan banjir, Jumat kemarin, 2/02/2007. Sekalian buka internet, browsing atau blogwalking. Dari pemantauan sekilas, ruangan saya sih tidak ada masalah karena terletak di lantai 2. Akses internet mati rupanya karena server di kantor juga mati. Ternyata, IT support di kantor saya tidak masuk karena jalan keluar di rumahnya di daerah Tangerang, banjir. Saya lihat, jam sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Setelah saya pertimbangkan beberapa saat, akhirnya saya berkemas sekalian pulang saja setelah sholat Jumat. Tidak ada yang bisa saya lakukan di kantor. Sementara itu, banyak juga rekan kerja yang tidak masuk dan beberapa orang memutuskan juga pulang ke rumah siang itu lebih cepat dari biasanya.


Sebenarnya rencana siang itu, sholat Jumat di dekat kantor seperti biasanya. Namun, dari informasi rekan yang tinggal di dekat masjid kantor, masjid tersebut sudah tidak bisa dipakai lagi karena dipakai untuk parkir sepeda motor (kebetulan, lokasi masjid dekat kantor di tempat yang tinggi setelah ditimbun dengan tanah tahun lalu). Terpaksa, cari masjid lain sekitarnya. Namun, saya ingat ada keperluan transaksi di ATM BCA. Saya putuskan sekalian saja ke Mal Citraland untuk sholat Jumat (Di beberapa mal di Jakarta, banyak yang menyediakan tempat untuk sholat Jumat. Meski bertempat di parkiran mobil, lokasi yang tersedia sudah dapat dikatakan layak dan bersih. Untuk Mal Citraland, lokasi terletak di tempat parkir mobil di lantai 4).


Di halte bis biasa depan kantor, saya tunggu angkutan yang menuju ke Mal Citraland. Kok ga ada yang lewat? Kalau ada yang lewat pun, selalu penuh dan bisnya hampir miring atau ambruk… :-D. Saya putuskan jalan kaki sambil sesekali berharap ada bis atau mikrolet yang tidak terlalu penuh sesak. Namun, sampai di depan mal Citraland atau tepatnya Jalan S. Parman, ternyata semua angkot penuh sesak. Itu pun sangat jarang sekali yang lewat
Sampai di mal, segera saya cari tempat parkir lantai 4 yang biasa dipakai untuk sholat Jumat. Ternyata, sholat belum dimulai karena masih sedikitnya jamaan yang datang (tidak seperti biasanya yang penuh sesak). Setelah kira-kira banyak, sholat pun segera dimulai. Tema sholatnya ternyata sama dengan tema tempat sholat Pak Budi Rahardjo, yakni tentang perlunya bersyukur dan introspeksi diri atas banyaknya musibah yang mendera bangsa ini. Lho kok bisa sama ya ? :-D

Selesai sholat, saya makan siang dulu di foodcourt Mal Citraland Lt. 5. Hmm..tempat duduknya terlihat sepi dan lengang. Padahal, biasanya ramai. Sayangnya, saya lupa mengambil skrinsyutnya (karena keburu lapar. Hehe….) Tanpa menunggu lama setelah dihidangkan, nasi sop kambing pun tandas saya makan. Segera saya tinggalkan Mal Citraland setelah sebelumnya mampir sebentar di ATM. Tujuan pertama saya adalah ke halte busway Grogol. Sampai di halte, ternyata loket tempat penjualan sudah tutup. Ternyata, operasional busway pada hari itu ditiadakan. Walah…padahal pagi sebelumnya ketika berangkat kantor, bis TransJakarta masih bisa jalan sampai di depan kantor saya, lha…kok siangnya malah ditutup (kalau sejak pagi ditutup pasti saya sekalian ga masuk). Berikut skrinsyutnya :


Terpaksa, cari alternatif angkutan lain. Saya putuskan jalan sampai ke Grogol mencari angkutan untuk pulang. Ternyata, sampai di Grogol, situasi kurang lebih sama dengan di tempat lain. Banjir, macet dan semrawut. Berikut foto yang sempat saya ambil :



Celingukan sana-sini, banyak orang bergerombol di mulut jalan yang menggenang. Ternyata mereka sedang membetulkan motor yang mogok karena nekat melawan banjir. Jumlahnya pun banyak. Sementara, motor yang mau menerjang banjir, saya lihat juga cukup banyak. Mobil pun, sami mawon. Tapi mereka melambatkan jalannya kendaran dan mencari jalan di pinggiran yang genangannya tidak terlalu tinggi. Hal ini yang menyebabkan macet dan semrawutnya lalu lintas.


Beberapa bis besar yang saya lihat dan lewat di kolong jembatan Grogol, penuh sesak dengan jumlah penumpang. Duh..kalau saya paksakan naik bis ini, malah lebih rawan. Selain resiko kecopetan, bis juga bisa terguling karena posisi bis sudah miring akibat banyaknya penumpang. Huh, bagaimana ini? Otak kanan saya pun berpikir kenapa tidak jalan kaki saja sambil hunting foto banjir selama perjalanan. Toh, cuaca juga mendung dan waktu masih menunjukkan pukul 14.00 WIB. Tanpa berpikir lama, saya putuskan jalan kaki sampai Harmoni dari depan Grogol ini (tepatnya dari Jalan S. Parman). Sekuatnya dan kalau capek ya berhenti. Begitu niat saya.
Perjalanan dimulai. Saya cari jalan yang genangan airnya tidak terlalu tinggi. Kebetulan di depan Mal Citraland Grogol ini, terdapat air menggenang. Kira-kira ½ lutut. Tak apalah. Toh, tidak setiap hari. Sambil berjalan, saya jepret sana dan jeperet sini. Berikut foto-foto banjir di sekitar Citraland yang berhasil saya ambil :


Sempat juga, saya naik dan mengambil beberapa foto dari jembatan penyeberangan yang menghubungkan Universitas Tarumanegara dan Trisakti dengan hasil seperti ini :



Setelah dirasa cukup mengambil foto di sana-sini sekitar mal Citraland, perjalanan saya lanjutkan kembali menuju Mal Taman Anggrek. Di sepanjang perjalanan, saya lihat banyak wajah-wajah kuyu dan capek yang berjalan seperti saya. Nampaknya mereka korban banjir. Ada juga beberapa orang yang nampak seperti orang kantoran, ikut berjalan seperti saya. Sempat dari mereka bertanya ke saya, kalau mau ke Tanjung Priok pakai bis apa? Halah, daerah itu kan parah banget banjirnya.

Sampai di fly over Tomang, saya berhenti sebentar. Sambil beristirahat, saya lihat beberapa tukang ojek menawarkan jasanya kepada beberapa pejalan kaki yang lewat seperti saya. Dari mencuri dengar, umumnya mereka mematok tarif yang sangat tinggi, dengan alasan banjir. Rata-rata 2 kali lipat dari harga normal. Padahal, jalan yang merekja lewati sebenarnya tidak melewati daerah banjir. Wah..masih ada juga ya orang yang tega memanfaatkan situasi seperti ini...
Perjalanan saya lanjutkan kembali. Saya susuri jalan Tomang Raya menuju Harmoni. Sesampai di tanjakan jembatan di atas sungai Banjir Kanal Barat, perjalanan saya kembali terhenti. Banjir setinggi pusar orang dewasa kembali menghadang. Saya lihat situasi terlebih dahulu. Hmm..ada median jalan yang memisahkan 2 lajur yang berlawanan arah, bisa saya lewati. Tingginya hanya selutut. Celana kantor saya cukup saya lipat sampai paha, mudah-mudahan saya bisa melewati halangan ini. Sambil jalan, tak lupa saya potret beberapa kejadian disana sebagai berikut :

















Perjalanan saya lanjutkan ke Harmoni. Di tengah jalan, banyak orang yang mengungsi dengan membawa koper-koper besar seperti ini :
Puff…akhirnya sampai juga di Harmoni. Saya lihat jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Tiga jam berjalan kaki dari Citraland ke Harmoni !!. Total, hari itu saya berjalan dari depan kantor atau halte Indosiar ke Harmoni yang jaraknya kurang lebih 9-10 km dengan 3 kali istirahat. Lumayan pegal juga kaki. Langsung cari mikrolet menuju Terminal Senen untuk segera pulang ke rumah. Lega....


Hari itu, saya banyak mendapat pengalaman berharga. Betapa saya bisa merasakan sendiri akibat banjir yang sangat luar biasa dahsyat. Meski rumah saya di daerah Kemayoran tidak tergenang air (alhamdulillah..!), namun efeknya saya juga turut merasakan. Listrik mati, air PAM mati. Gara-gara banjir, saya juga harus kebingungan mencari alternatif rumah sakit bersalin yang mudah aksesnya dan tidak banjir seperti RSI, yang menjadi langganan saya sekeluarga. Lagi-lagi, karena banjir saya juga terhambat membawa isteri ke dokter yang didiagnosa kena penyakit cacar. Padahal sudah hamil tua. Jakarta yang sehari-hari hari sudah menyesakkan dengan kehidupannya yang keras seperti kemacetan,polusi, angka kriminalitas yang tinggi dsb, hari itu terasa lebih menyesakkan lagi. Lengkaplah sudah gambaran bahwa tidak mudah untuk hidup dan tinggal di Jakarta. Oh..indahnya hidup di Jakarta…:(

Indahnya hidup di Jakarta (Bagian 1)

Jumat pagi kemarin,2/01/2007, hujan deras mengguyur Jakarta semalaman. Sampai saya berangkat pagi tadi, hujan lebat belum berhenti. Feeling saya, pasti banjir nih jalanan (dan seperti yang kita lihat berita di berbagai media, jakarta lumpuh total akibat banjir). Saya putuskan untuk mengistirahatkan Honda Karisma kesayangan yang sudah setia menemani saya selama 3 tahun terakhir ini berangkat dan pulang ngantor. Pilihan yang paling nyaman dan rasional dalam kondisi hujan deras seperti ini (dan dipastikan banjir ataupun macet) adalah naik busway. Kebetulan jalur busway melewati seberang rumah saya dan tentunya melewati seberang kantor saya di daerah Daan Mogot Jakarta Barat.

Tepat pukul 06.45 WIB, saya keluar dari rumah menuju halte Galur Jakarta Pusat. Perjalanan lancar. Tidak ada hambatan yang berarti. Setengah jam kemudian, busway yang saya pakai sudah tiba di halte Central Harmoni. Di sinilah saya harus berganti atau transfer jalur ke koridor dua yang menuju ke kantor. Bergegas saya pindah menuju ke antrian busway koridor 2 yang menuju Kalideres. Alamak !!! antriannya sudah 200 meter lebih. Duh, gimana nih. Naik bis biasa atau tetap ikut antrian panjang ini. Salah seorang penumpang menyarankan tetap saja ikut antrian tersebut karena bis biasa sedikit yang jalan karena banjir. Akhirnya, saya ikuti antrian busway yang panjang tersebut.

Mula-mula bis berjalan lancar. Namun begitu memasuki Jl. Tomang Raya, antrian sangat panjang. Jalan macet total rupanya. Waduh…ada apa nih. Ternyata banjir besar menggenangi jalan. Tingginya setinggi ban bis besar. Saya lihat dari dalam bis, tanggul di sepanjang Banjir Kanal Barat ternyata jebol dan tumpah ke rumah dan jalan, termasuk ke Jalan Tomang Raya yang saya lewati pagi kemarin. Melihat tingginya air yang menggenangi jalanan, otomatis mobil-mobil pribadi dan motor pada ngeper dan langsung putar arah. Inilah yang menyebabkan semrawut dan macet yang sangat panjang. Dari dalam Bis Transjakarta, saya sempat memotret ketinggian banjir di Jl. Tomang Raya ini dengan kamera HP Sony Ericsson K 510i sbb :


Satu lagi ini :


Saya lihat, jarum jam menunjukkan pukul 07.45 WIB. Bis hanya bisa merayap pelan sepanjang jalan Tomang Raya karena jalur khusus busway juga dipakai oleh bis umum biasa (non busway) dan mobil pribadi yang nekat menerobos banjir. Kadang-kadang malah berhenti lama. Alhasil, jarak dari Jl. Tomang Raya ke Fly Over Tomang (kira-kira sekitar 1 km), ditempuh dalam waktu 1 jam. Sampai di Fly Over Tomang, bis berhenti total selama sekitar 3/4 jam. Dari dalam bis, saya lihat banyak penumpang bis biasa turun di Fly Over ini. Nampaknya mereka tidak sabar dan kelihatan kegerahan karena bis tidak ber-AC. Sementara, para penumpang busway yang sudah tidak sabar, juga ikut turun, meski tidak di halte. Sopir bisnya juga tanggap. Mereka memperbolehkan penumpangnya turun, meski tidak di halte. Supaya tidak melompat dari pintu tengah yang biasa dibuka ketika di halte, sopir membukakan pintu bagian depan. Suasana agak lega. Para penumpang yang tidak turun, memilih tidur karena kebetulan bisnya dilengkapi dengan AC yang sangat dingin. Suasananya, seperti ini :

Saya sendiri, memilih mengobrol dengan teman kanan kiri saya sepanjang terjebak macet tersebut.

Bis masih merayap perlahan. Begitu masuk ke jalur busway di depan Mal Taman Anggrek, lagi-lagi di depan dan di belakang bis Transjakarta yang saya tumpangi ini, sudah ada mobil pribadi dan bis biasa yang masuk ke jalur busway. Fotonya seperti ini :



Lagi-lagi, saya harus menunggu lama di jalur jalan ini. Sementara, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.45 WIB (hihihi..sudah pasti teerlambat datang di kantor). Pelan tapi pasti, bis berjalan menuju halte selanjutnya yaitu halte Grogol. Ternyata di depan Citraland juga banjir !!!. Tingginya kira-kira sama dengan yang di Jl. Tomang Raya sebelumnya. Berikut foto-fotonya.

dan ini :




Sekitar pukul 11.00 WIB tiba di halte busway Grogol. Saya lihat, halte bis biasa, juga tergenang banjir. Fotonya berikut ini :


Di halte ini, sopir bis dan kru Busway mengumumkan kalau bis hanya sampai di halte Indosiar dan tidak sampai di tujuan akhir yaitu Kalideres karena banjir. Banyak penumpang yang bersungut-sungut dengan pengumuman ini. Mereka mencoba berdebat dengan sopir. Tapi sopir tetap berkeras bahwa bis hanya sampai di halte Indosiar. Untunglah tujuan akhir saya memang di sini. Jadi tidak ada masalah. Saya pun turun beberapa meter sebelum halte dan mengabadikan pompa bensin di seberang Indosiar yang terendam banjir seperti berikut ini :

Saya lihat, jarum jam menunjukkan pukul 11.45 WIB. Gila !!, berarti perjalanan yang biasanya saya tempuh dengan naik motor hanya setengah jam, sekarang ini saya tempuh empat jam lebih. Perjalanan terlama selama ke kantor selama 6 tahun tinggal di Jakarta !!. Saya pun bergegas menuju kantor. Halah, kantor kok sepi?? Hanya ada beberapa orang saja yang kelihatan. Sialan, ternyata banyak yang nggak masuk hari ini gara-gara banjir. Big Bos saya pun ternyata juga tidak masuk. Tahu gitu, saya juga tidak masuk juga. Huh !!! (-bersambung-)

Disclaimer : Semua tulisan di blog ini adalah pendapat pribadi dan tidak mengatasnamakan siapa pun dan institusi mana pun

Designed by Posicionamiento Web