Hati-hati terhadap jalan di Jakarta

Jumat sore yang lalu,13/9/2006, hari yang sial buat saya. Di bundaran depan kantor Indosat Jakarta, saya kena tilang polisi. Padahal, hari-hari sebelumnya, saya lewat jalur tersebut, baik naik mobil maupun naik motor, aman-aman dan dibiarkan oleh polisi. Nampaknya, ada rambu-rambu baru yang nampaknya tidak jelas dan menjadi jebakan agar polisi bisa memeras pengendara seenaknya.

Kejadiannya begini : Saya memacu kendaraan saya dari arah MH. Thamrin menuju ke arah Kota. Tepat di depan bundaran kantor Indosat, saya belok ke kanan hendak masuk menuju ke arah Jl. Medan Merdeka Selatan (menuju ke arah IRTI Monas/Balaikota). Saya langsung potong ke kanan saja. Selama ini saya melalui jalur tersebut dan aman-aman saja. Kebetulan ada 3 sepeda motor yang mengikuti langkah saya. Kemudian berhenti di depan lampu merah. Ketika hijau,saya pun jalan. Tapi ternyata, ketika lepas berjalan, di hadapan saya sudah berdiri 3 polisi yang menghalangi jalan saya dan 3 sepeda motor yang berbarengan dengan saya.

Tanpa omong banyak, polisi tersebut minta STNK dan SIM C saya. Sebelumnya saya bilang, apa salah saya pak? Pak Polisi tersebut menjawab, tidak boleh memotong ke kanan. Saya ngeyel, lho kan tidak ada rambunya bila tidak boleh? Pak Polisi itu pun menjawab, pokoknya tidak boleh. Kebetulan badan saya sudah capek dan ngantuk banget. Lagi males debat sama pak Polisi. Intinya, dia minta duit daripada sidang. Tawar menawar akhirnya kena Rp. 30 ribu. Sebenarnya Rp. 20 ribu. Cuma karena kebodohan saya yang pas tidak bawa uang pas, sama polisi gila itu saya hanya diberi kembalian Rp. 20 ribu dari Rp. 50 ribu yang saya berikan. Saya lihat, 3 pengendara yang lain juga nampaknya memilih damai daripada urusannya ribet ke pengadilan. Saya tahu, ini memang tidak bijaksana. Tapi daripada nanti repot urusan di belakang sementara saya juga tidak punya banyak waktu untuk mengurusnya, saya ikhlaskan saja, berdamai dengan polisi gendeng itu. Sebelum pergi, saya lihat banyak mobil dan motor yang bernasib apes seperti saya. Berarti polisi di situ memang sengaja menjebak kita agar bisa diperas. Hati-hati bila mengendarai di daerah Thamrin dan hendak berbelok ke Jl.Medan Merdeka Selatan ! (beberapa hari kemudian saya lewat kembali jalan tersebut dan memang tidak ada tanda yang tidak memperbolehkan kita untuk belok, namun rambu semacam papan display warna hitam dengan displau hijau yang menunjukkkan arah lajur boleh belok, memang sudah lama mati)

Daerah lain yang perlu anda waspadai. Jika berjalan dari Jl. Jendral Sudirman Jakarta menuju arah Blok M dan ingin putar balik di Ratu Plaza, juga hendaknya hati-hati. Banyak polisi yang menjebak disana. Tepatnya di bundaran antara Gedung Panin dan jalan Sisingamaraja. Supaya tidak kena tilang jika anda dari arah Jl. Sudirman dan hendak putar balik menuju Ratu Plaza, kendaraan anda sebaiknya ambil ke kiri dulu ke arah Senopati baru putar balik di belakang Gedung (namanya lupa???) baru ambil kanan menuju ke arah Sudirman arah Kota.

Satu lagi daerah yang perlu diwaspadai buat pengendara motor : Bundaran Semanggi !!!. Buat para pendatang baru, biasanya jalan tersebut memakan banyak korban. Ketika pertama kali di Jakarta, saya juga kena tilang di daerah tersebut.

Intinya, hati-hati deh kalau mengendarai di jalan-jalan Jakarta. Pelajari jalan-jalan yang ada. Kalau apes, ya pasti kena tilang.

*skrinsyut lokasinya nyusul yach*

1 comments:

akbar said...

yaaahh,,, dimana mana polisi emg gitu kok. malahan, di bandung, waktu saya kuliah,,, polisi2 ada yg sembunyi di pohon2 atau balik dinding tempat persimpangan perbodeen. jadi pas ada yg ngelanggar, langsung keluar polisinya, hahahaha,,, ibarat Reality Show, pengendara motor, "KENA DEEEHHH"!

Disclaimer : Semua tulisan di blog ini adalah pendapat pribadi dan tidak mengatasnamakan siapa pun dan institusi mana pun

Designed by Posicionamiento Web