Malas Membaca Buku Petunjuk

Pagi-pagi kemarin,16/4/2007, di sela-sela jam kerja, teman sekantor saya bertanya via telepon internal tentang cara mengoperasikan handycam merk Canon, yang baru dibelinya di Glodok, Jakarta. Sebut saja dia namanya Ninit. Berikut percakapan kami pagi kemarin :


Ninit : Mas, bisa mengoperasikan handycam Canon.

Saya : Kenapa emang?

Ninit : Saya baru beli handycam kemarin, seharian mencoba sama suami
ndak bisa-bisa cara makainya.

Saya : Terus terang kalau merek Canon saya belum pernah pakai. Kalau
merek Sony, Panasonic dan Samsung pernah. Tapi menurutku,
prinsip pemakaiannya sama sih. Coba kamu baca buku petunjuk
atau manual book yang biasanya disertakan di handycam tersebut.
Biasanya ketika membeli suatu produk, ada buku petunjuknya yang

menjelaskan detil produk sampai ke cara penggunaannya.

Ninit : Wah,bingung mas. Habis buku manualnya segepok gitu. Gini aja
deh, ntar sorean saya ke ruangan mas, tolong diajari cara makainya.

Saya : Iya deh (*seperti biasa, tidak bisa menolak permintaan teman,
apalagi kalau cewek. Hihihihi...* )


Singkat cerita, sore itu teman kantor tersebut datang ke ruangan saya, minta diajari cara menggunakan handycam baru tersebut. Seperti yang telah saya duga, prinsip dan cara kerjanya memang serupa dengan merk lainnya. Alhasil, tidak perlu waktu lama bagi saya untuk mengajari teman kantor menggunakan handycam barunya tersebut. Sekilas saya lihat, sebenarnya di manual book bawaan handycam tersebut sudah lengkap menerangkan detil dan cara penggunaannya. Memang di produk yang dibeli teman saya tersebut, tidak disertakan buku petunjuk yang berbahasa Indonesia. Nampaknya, ini yang menjadi kendala utama bagi teman saya tersebut dalam memahami barang barunya itu. Karena setelah dapat mengoperasikan handycam tersebut, teman saya mengaku kalau dia mencari-cari manual book yang berbahasa Indonesia di boks bawaan handycam-nya kok ga ada. *Halah* (padahal, teman kantor saya tersebut secara pendidikan akademis setara dengan sarjana lho. Mestinya, dapat memahami manual book yang berbahasa Inggris meski pasif. Tapi nyatanya....)


Kejadian seperti ini tidak hanya sekali dua kali. Sering saya dimintai teman kantor, tetangga, saudara bahkan bos saya sendiri untuk mengajari mereka menggunakan gadget yang baru saja mereka beli. Mulai dari HP berkelas seperti Nokia Communicator sampai “iPod-iPodan” produk China pun, mereka minta tolong ke saya. Berkali-kali saya bilang, coba deh baca manual book atau buku petunjuk yang disertakan dalam produk yang didapat waktu beli. Namun alasannya beragam namun muaranya sama : malas membaca manual book !!


Penyakit malas membaca buku petunjuk ketika habis membeli produk baru ini, nampaknya sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat kita. Padahal, di buku petunjuk tersebut sering dijumpai hal-hal penting yang harus diketahui konsumen - yang bisa jadi, antara produk yang satu dengan produk yang lain, beda. Di perusahaan saya yang menjual produk mobil berkelas dari Jerman, pelanggan pernah salah mengisi bahan bakar mobilnya dengan bensin biasa yang mestinya harus sekelas pertamax agar mesin tidak jebol. Hal ini gara-gara, sekali lagi, malas membaca buku petunjuk yang disertakan ketika membeli mobil mahal tersebut.


Bagi saya, ada untungnya juga dengan kondisi seperti yang saya ceritakan di atas. Saya jadi orang yang pertama kali mencoba produk-produk canggih yang mungkin tidak terbeli oleh uang dari gaji saya itu. Lumayanlah, tanpa perlu ikut trend tapi tidak kuper . Cuma repotnya, kalau pas sedang banyak kerjaan, hal ini juga menyita banyak waktu karena mau tidak mau, saya juga harus mempelajari buku petunjuknya jika saya tidak memahaminya atau produk baru tersebut belum pernah sama sekali saya coba. Ah, dasar orang kita...



Foto : website Canon.com

8 comments:

adhisimon said...

Hal seperti ini juga yang menghambat adaptasi penggunaan Linux/Opensource. Soalnya, kata siapa Linux tidak terdokumentasi? Justru dokumentasi tentang Linux jauh lebih lengkap dari Windows. Orang-orang saja yang malas baca.

asmara said...

bagi mereka memang lebih praktis seperti itu, karena tidak perlu membaca so mereka tidak perlu membuang waktu khusus utk itu. repotnya lagi kalo itu yang kebiasaan idup: harus diajarin oleh seseorang dan kalo tidak ada yang ngajarin maka akan punya sugesti dia tidak bisa tau cara penggunaannya.
yach bagi kita utk ngajarin tuh effortnya di waktu sih....

Luthfi said...

:-)

Luthfi said...

hihihi .. aku baca buku manual kayak gitu biasanya spid riding
yg gampang2 aja, klo yg susah dipraktekin fiturnya, kutinggal dulu :-)
nunggu diajarin tmn :-)

rouf said...

Kalo "manual book"e dibikin stensilan mungkin malah dibaca ya, Mas...kan mirip buku itu tuh... :p

Anang said...

membaca TOS ama Provacy Policy pun malas kebanyakan orang itu... Tanya Kenapa?

ario dipoyono said...

koq membaca males... baru tau rasa klo alatnya rusak

godot said...

betulmas, pengalaman diatas saya juga sering alami. nggak dikantor (dulu) nggak di komplek (sekarang) perilaku spt itu masih tetep ada. tapi asiknya, kalau di komplek rumah saya pada mau saya tularin pake ubuntu hehehe... itung2 penyebaran opensource

Disclaimer : Semua tulisan di blog ini adalah pendapat pribadi dan tidak mengatasnamakan siapa pun dan institusi mana pun

Designed by Posicionamiento Web