Waspada di setiap titik transaksi pembayaran


Postingan ini muncul beranjak dari kejadian yang saya alami sore kemarin, Senin 2/4/2007. Kebetulan, keperluan harian anak saya, Advaya seperti susu, diaper dsb sudah habis. Maka meluncurlah saya ke Carrefour Duta Merlin di seputaran Harmoni sepulang dari kantor. Singkat cerita, setelah saya selesai berbelanja, motor langsung saya arahkan ke loket pembayaran di pintu keluar. Sejenak saya menunggu di belakang mobil, sebelum dilayani oleh petugas parkir dari Secure Parking. Begitu mobil di depan saya selesai membayar, giliran saya di belakang mobil maju untuk gantian membayar. Saya sodorkan tiket parkir yang diberikan sebelumnya di pintu masuk, sambil memberikan satu lembar uang lima ribuan. Sambil menunggu petugas tersebut menyelesaikan perhitungannya, iseng saya lihat ada tulisan, “Mintalah bukti struk parkir. Jika tidak diberi, maka parkir gratis” (kurang lebih tulisannya seperti itu). Tiba-tiba, saya disodorkan uang kembalian oleh petugas parkir tersebut. Saya lihat sebentar, lho kok cuma Rp. 3000 saja? Rasanya, saya berbelanja tidak sampai satu jam kok dikenakan parkir 2000 rupiah. Reflek saya tanya sama petugasnya :


Saya : “Minta struknya dong”
Petugas : “Sebentar pak,mmmm... seribu rupiah”
(sambil menyerahkan kekurangan Rp.1000 rupiah)


Weits....hampir saja saya dicurangi nih. Saya lihat di struk parkir memang biaya parkirnya cuma Rp.1.000,- saja. Untung saya waspada sehingga tidak sampai menjadi korban kecurangan petugas nakal tersebut. Saya yakin, tidak hanya saya yang diperlakukan demikian. Coba kalau ada 100 kendaraan saja yang diperlakukan demikian, pemasukan tak resmi petugas tersebut sehari tentu sangat banyak sekali (sayangnya, saya tidak sempat mencatat nama petugas yang bersangkutan). Antisipasi dari pihak Secure Parking sebenarnya juga sudah bagus dengan memasang tulisan untuk meminta bukti struk parkir untuk mencegah kecurangan seperti petugas nakal tersebut. Namun, saya pikir hal tersebut belumlah cukup. Perlunya manajemen Secure Parking bertindak lebih keras lagi kepada karyawannya agar ada efek jera karena kejadian seperti ini tidak hanya saya alami kemarin saya di parkiran Duta Merlin, namun juga di parkiran mal lain. Oleh sebab itu, saran saya jangan lupa agar selalu minta bukti struk pembayaran untuk mencegah petugas nakal berbuat curang.


Titik transaksi lain yang perlu diwaspadai adalah pompa bensin. Terutama yang beli bensin full tank atau berdasarkan literan. Seperti yang sering saya alami, petugasnya mengecoh kita dengan membulatkan nilai pembayaran ke atas. Kalau hanya 50 atau 100 rupiah saja, mungkin kita bisa maklum karena memang agak sulit mencari uang kembalian receh senilai tersebut. Namun, saya pernah mengalami kejadian menerima uang kembalian pembelian bensin dengan pembulatan 1500 rupiah atau bahkan lebih. Ketika saya protes, barulah uang tersebut dikembalikan. Berdasar pengalaman ini, bila di pom bensin, saya lebih senang membayar pakai kartu debit atau jangan pernah mengisi bensin full tank. Saya isi tanki bensin di motor atau mobil saya cukup dengan nilai nominal uang yang pas. Misal beli Rp.150 ribu untuk mobil atau Rp. 15 ribu untuk motor (tentunya menyesuaikan dengan kapasitas tangki kendaraan anda). Cara ini sedikit mengurangi resiko dicurangi.


Anda punya pengalaman serupa atau tips lain yang menarik untuk menghindari kecurangan sejenis?


Gambar diambil dari sini


22 comments:

snydez said...

dulu saya juga gitu, bayar..ya bayar aja..
kadang kadang gak minta struknya..

tapi sekarang, semenjak ada 'menteri keuangan', ... nyonya tersebut yang selalu mewantiwanti saya dalam hal pembayaran.

nah kalo untuk parkir.
biasanya menyerahkan dulu karcis parkir, uang tetep dipegang dulu.
lalu ketika si petugas parkir menyebutkan angka (atau ada LCD display nya) baru lah serahkan uangnya.
setelah uang nya dikasih, saya akan tetep nunggu sampe struk nya dikasih..

Romi Satria Wahono said...

Sepertinya pembayaran Tol juga perlu diwaspadai ;)

Anonymous said...

Halo mas Cahya...

Pada sabtu kemarin pun saya melakukan keisengan yang sama.

Begini ceritanya...Sebagai warga negara yang adiluhung saya memenuhi kewajiban untuk menyerahkan SPT di Kantor Pelayanan Pajak di kampung saya. Ketika Pagi kami datang ke sana petugas parkir masih belum ada di posnya..ya dengan senang hati saya memasuki lahan parkir dan memarkir kendaraan hingga kami usai mengurus surat surat SPT yang hari itu adalah hari terakhir pengumpulannya.

Satu jam kemudian setelah memastikan semua urusan beres dan tak ada satu wanita nan ayu yang mengantri disana, saya pun pulang.

Pak Parkir sudah berada di pos nya...ya tentu saya tak mau dan tak mungkin untuk ngeloyor tanpa bayar....dua lembar uang seribuan pun saya siapkan..karena kendaraan di depan sayapun kelihatanyya membayar dengan harga yang sama....

srrttt..giliran saya membayar...walah kok cuma senyum manis dan terima kasih saja ya pikir saya....

sebagai warga negara yang adi luhung pun saya tak ingin lubang-lubang korupsi aman tentram loh jinawi..."wah harus dididik ni", begitu pikir saya....

"Pak struk nya mana"...begitu sapa saya sembari memamerkan senyum manis saya...

selembar struk pun akhir nya diberikan...meski tanpa tjap...

tadinya saya mau meminta tjap..resmi..toh dengan struk yg saya terima ...uang tak terjamin aman sampai ke kantor...

yo wis lah gak papa..yang penting saya sudah menggelitik dia...

Mochtar-Menur

andriansah said...

Gak usah minta struk sih sebenarnya, cukup noleh liat monitornya yang ada di depatn petugasnya aja udah cukup, kalo kembaliannya kurang dan tidak sesuai dengan monitor, baru minta struknya

Yudhis said...

wah pengalaman di secure parking ini memang sering banget saya alami. tapi memang godaan ntuk mengambil kesempatan terlalu besar bagi para penjaga ini.

bayangkan tiap hari pasti melihat banyak orang punya yang memakai mobil bagus, yang terkadang juga tidak terlalu peduli dengan uang yg mereka bayarkan.

antara mau kasih pelajaran, tapi yang dikasih pelajaran koq orang yang lebih sulit dibanding kita, jadi tambah bingung....

Harry Sufehmi said...

Sama seperti mas Yudhis, bingung sih memang. Mau ngotot, duitnya cuma sedikit. Dan jelas mereka lebih butuh daripada kita.

Di lain pihak, kalau dibiarkan berarti kita mengajarkan mereka korupsi.
Jadi ini salah satu fakta juga bagaimana bobroknya Indonesia - korupsi itu terjadi dari level yang paling bawah, sampai level paling atas.

Jadi ingat seorang kiai yang teriak-teriak waktu khotbah Jumat, katanya Indonesia ini kena musibah gara2 korupsi oleh kelompok elitnya.
Lha, kembalian saya waktu ngisi bensin juga diembat kok sama pengisinya, he he.

Diskusi yang senada juga ada di posting ini.

Thanks.

achedy said...

Selain masalah pembayaran, sekarang ini yang mejadi masalah adalah ketiadaan uang kecil. Jadi tidak hanya orang yg nggak punya uang yg sengsara, jika kita bepergian dengan uang 100 ribuan kita juga akan sengsara, mana kalau kita mengambil uang dari bank terkecilnya adalah 50 ribu lagi.

Mbilung said...

lha yang mumet itu kan kalo kembalian uang belanjanya itu permen.

irwan said...

yah, salah satu model korup kelas teri begini ini emang sulit untuk di hilangkan... udah membudaya kayaknya... :)

Anonymous said...

Saya punya pengalaman serupa di parkir motor basement mall Ambasador. Sebenarnya ini bukan pertama kali, sudah belasan kali saya mengalaminya.

Kejadiannya sama persis, begitu kita sampai disamping loket, dia ketik nomor motor kita dengan cepat, sehingga angka rupiahnya lewat dgn cepat, alhasil kita tidak bisa melihat berapa rupiah. Trus seandainya kita ngotot minta struk, mereka pintar, tinta printernya tidak pernah diganti, sehingga tipis banget, nyaris tidak terbaca.

Dari situ saya melihat kita perlu menghitung sendiri terlebih dahulu berapa parkir yg harus kita bayar sebelum naik ke motor/mobil kita, supaya klu mereka mau nakal kita udah siap.

cahyo said...

@ snydez
intinya tetap minta struk atau hitam di atas putih kan mas? ;-)

@ romi
betul mas, saya juga pernah dikibulin di loket tol juga

@ mochtar
2000 masih minta reimbursment kantor jugak? *hehehe..becanda*

@ andri
betul juga ya mas andri?? prinsipnya, yang penting jangan sampai kita dikibuli dan selalu waspada

@ yudhis
betul mas yudhis. kadang kita memang mengalami dilema seperti itu

@ harry sufehmi
sepertinya, banyak yang mengalami demikian ya mas harry. contohnya mas anonymous (di bawah mas irwan)

@ achedy
jadi lingkaran setan mas?

@ mbilung
betul sir mbilung...saya setujuh juga dengan hal ini. kalau di pasar, kadang saya dikasih kembalian micin atau moto untuk nyayur. padahal saya ga pernah pake micin kalau masak

@ irwan
waduh, kalau jadi budaya, gaswat juga mas...;-(

@ anonymous
thanks atas sharingnya mas. semoga kita semakin waspada ya...;-)

Junkerz side B said...

nampaknya layanan parkir di SEMUA(?) Careefour memang bermasalah ya?? :(

Indra said...

iya sama.... saya di carefour Tamini Square petugas parkirnya curang tuuh..

sutrisno mahardika said...

terima kasih tips nya mas! saya sudah siap sekarang!! menghadapi dunia yang kejam! hehehe

Luthfi said...

hmmm,
*mikir*

Fany said...

saya juga dari dulu selalu isi bensin ngitungnya berdasarkan nominal duit yang akan saya bayar, lebih terjamin..

aribowo said...

kalo saya menilainya hal itu bisa terjadi karena dia merasa gajinya kurang untuk kebutuhannya sehari-hari atau mungkin dia ingin kebutuhan yang lebih tinggi, makanya dia mencari cara alternative untuk mendapatkan uang walau dengan cara curang seperti itu

M Fahmi Aulia said...

hohoho...ternyata pelakunya sama ya..si SP itu..hihihi..:p

Naif Al'as said...

modus operandi pegawai SP ampir2 sama yah ditiap tempat. apa jgn2 masuk ke buku petunjuk karyawan SP? :p

Kreshna Iceheart said...

Heh, baca ini:
http://kompas.com/sp/index.cfm?id=1&item=55041

Carrefour just plain sucks; memberi uang tidak laku kepada pelanggan. Either that, or Secure Parking sucks. Or both.

Either way, Indonesian consumers are screwed. Indonesia itu seperti Amerika, dimana perusahaan-perusahaan besar bisa seenaknya memperkosa lubang pantat konsumen karena pemerintahnya sangat pro kepada big corporate fat cats.

Well at least kita masih bisa bersyukur bahwa Halliburton dan RIAA belum ada di sini.

Atau sudah?

Kreshna Iceheart said...

Ini beda dengan di Eropa, dimana hak-hak konsumen sangat dihargai, dan perusahaan-perusahaan besar tidak bisa seenaknya. Ini juga beda dengan Israel, dimana perusahaan-perusahaan kecil justru malah dikembangkan, sehingga timbul persaingan sehat yang menguntungkan konsumen.

Anehnya, Indonesia malah mengikuti model Amerika, yaitu model negara korporasi dimana pemerintahnya dengan senang hati memberikan layanan oral seks kepada perusahaan-perusahaan besar (seperti George W. Bush yang dengan nikmatnya menjilati sperma Halliburton).

Kenapa, ya? Kenapa kita tidak mengikuti model Israel, atau model Eropa?

Saya sendiri sering berbelanja di ebay, dimana banyak pengusaha-pengusaha kecil berjualan barang-barang bekas seperti game dan sebagainya (ebay bukan toko --ebay hanya mediator antara penjual dan pembeli). Ternyata berurusan dengan pengusaha barang-barang bekas yang berjualan di ebay itu jauh lebih menyenangkan daripada berurusan dengan perusahaan-perusahaan besar. Malah beberapa diantaranya ada yang menjadi teman.

Tapi mudah-mudahan orang-orang Indonesia belum sebodoh orang-orang Amerika.

Banyak orang Amerika yang membela RIAA walaupun mereka sendiri sebetulnya menderita karena DRM itu merugikan hak-hak konsumen (hak fair use).

Banyak orang Amerika yang membela Halliburton walaupun mereka sendiri yang dirugikan karena harga bensin terus naik.

Aneh ya, ada orang yang sedemikian bodohnya. Atau mungkin orang-orang Amerika itu menderita semacam sindrom rendah diri, sehingga mereka merasa perlu membela sesuatu yang lebih besar dari mereka (seperti membela perusahaan-perusahaan besar), padahal sudah jelas-jelas mereka dirugikan.

Mudah-mudahan orang-orang Indonesia JANGAN SAMPAI SEBODOH ITU.

Anonymous said...

Terima kasih untuk blog yang menarik

Disclaimer : Semua tulisan di blog ini adalah pendapat pribadi dan tidak mengatasnamakan siapa pun dan institusi mana pun

Designed by Posicionamiento Web