Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts

Mempertanyakan aspek perawatan fasilitas publik dan komersial di Indonesia

Belum lepas ingatan setahun yang lalu tentang rubuhnya jembatan gantung di lokasi wisata Baturaden Purwokerto, lagi-lagi kita disuguhi berita tentang jatuhnya plane tower, wahana permainan di Taman Rekreasi Wonderia Semarang yang menyebabkan puluhan orang luka-luka. Setelah itu, insiden jatuhnya lift di Ratu Plaza, menambah panjang deretan daftar fasilitas publik yang diduga kurang perawatan dari pihak pengelola atau tidak digantinya komponen yang sudah aus sehingga menyebabkan jatuhnya korban yang sia-sia.

Rentetan peristiwa ini terus terang menyiutkan nyali saya yang harus sering melakukan perjalanan ke luar kota menggunakan pesawat. Pesawat-pesawat yang sudah tua dan seringnya jatuh ditambah cuaca yang buruk membuat bayangan-bayangan buruk menari-nari dalam imajinasi saya tentang kurangnya perawatan armada-armada tersebut, membuat saya harus sering berdoa selama perjalanan.

Hal ini diperparah dengan salah satu penyakit bawaan saya yaitu takut ketinggian. Bayangan saya jika naik Bianglala atau Kora-Kora di Dufan (dan sejenisnya) adalah, bagaimana kalau tiba-tiba jatuh dari ketinggian akibat tali putus atau patahnya peralatan yang ada akibat sudah aus. Terus terang saya tidak terlalu percaya bahwa fasilitas publik dan komersial di Indonesia dirawat dengan baik dan benar. Mau bilang apa? Korban sudah banyak berjatuhan seperti tautan di awal tulisan di atas.

Mudah-mudahan pengelola fasilitas publik dan komersial di Indonesia sadar bahwa aspek keamanan harus menjadi prioritas utama dalam menjalankan usaha. Perawatan dan pemeliharaan harus rutin dilakukan. Jika memang sudah aus dan saatnya diganti, ya harus diganti supaya tidak ada korban yang jatuh sia-sia lagi. Jika hal ini tidak dilakukan, nampaknya penyakit ketinggian ini akan semakin parah saya idap...;-)

Gambar diambil dari blog mas Enda

Pasar tradisional dan jeritan rakyat kecil


Minggu kemarin, seperti biasanya, saya berbelanja ke pasar tradisional. Sendiri saya menuju pasar. Ya..sendiri. Kalau tidak naik sepeda onthel (sekalian berolahraga), kadang saya naik motor. Meski saya laki-laki, saya tidak malu untuk berbelanja ke pasar becek, yang identik dengan perempuan itu. Seminggu sekali saya berbecek-becek ria di pasar seperti ini untuk berbelanja kebutuhan kami (saya, isteri dan satu orang PRT di rumah) selama satu minggu. Biasanya memang saya hanya sekedar mengantarkan isteri saja dan saya hanya kebagian tugas membawakan hasil belanjaan tersebut untuk dibawa pulang ke rumah. Semenjak hamil tua sekarang ini, tugas ini saya ambil alih sepenuhnya dan memberikan kesempatan pada isteri untuk beristirahat banyak di rumah. Jangan heran, saya jadi berapa harga udang, daging sapi, telur per kilonya dsb. Hohoho....

Ada beberapa alasan mengapa saya memilih belanja langsung ke pasar. Salah satunya adalah harganya lebih murah dan barang yang tersedia lebih segar. Fresh. Langsung dari penjualnya. Hal ini yang sangat jarang saya dapatkan dari penjual sayur keliling yang sering lewat di depan rumah. Selain itu, dengan berbelanja langsung di pasar tradisional, saya juga dapat langsung berinteraksi dengan masyarakat kecil dan mendengarkan keluh kesah mereka. Terkait dengan ini, ada satu kejadian yang cukup membuat saya berkerut kening ketika hendak membeli rempeyek teri kesukaan saya dan isteri, di pasar kemarin. Berikut petikan pembicaraan saya dengan penjual rempeyek tersebut yang kebetulan orang jawa dan saya juga diajak bicara dengan bahasa Jawa (muka saya sudah cukup ndeso kali ya, jadi walau bicara dengan bahasa Indonesia, dijawab dengan bahasa Jawa) :

Saya :
Berapa harganya per bungkusnya bu?

Ibu penjual :
Sewu wae mas
( Seribu saja mas)
Saya :
Wah, kok larang, ora limang atus wae bu?

(Wah, kok mahal. Tidak lima ratus saja bu) ?
Ibu penjual :
Halah mas..opo-opo ki saiki larang.
Minyak larang, opo-opo larang.

Pengene aku ki yo murah wae. Nek larang ngene ki,
ora ono sing gelem tuku.
Mending aku bathine sithik ra popo, sing penting dagangan enthek.
Kudune pemerintah ki iso gawe kabeh rego murah.
Saiki arep dagang opo-opo susah. Piye tho iki mas?
Beras larang, minyak larang...
(Halah mas..apa-apa sekarang mahal. Minyak mahal, semua mahal.
Maunya saya sih juga murah. Kalau mahal begini tidak ada yang mau beli.
Mending saya untungnya sedikit tidak apa-apa, yang

penting dagangan habis. Harusnya pemerintah bisa
bikin semua harga
murah.Sekarang mau usaha apa saja susah.
Gimana sih ini mas. Beras
mahal,minyak mahal.....)
Saya :
(tersenyum kecut).Yo wis bu, tuku 5 bungkus wae.

(Ya sudah bu, beli lima bungkus saja).

Well, kenaikan harga kebutuhan pokok sekarang ini memang gila-gilaan. Orang yang berpenghasilan tetap seperti saya saja, imbasnya juga terasa sekali di kantong. Biasanya, saya berbelanja kebutuhan pokok di pasar becek ini cukup dengan 100 ribu saja untuk satu minggu, sekarang tidaklah cukup dan harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Bagaimana dengan mereka yang berpenghasilan kecil dan tidak seberapa, seperti ibu penjual rempeyek tersebut dengan meroketnya harga barang-barang sekarang ini ? Oleh sebab itu, jangan heran kalau banyak berita yang menyebutkan, banyak rakyat kita sekarang yang makan nasi aking atau nasi basi karena tidak memiliki uang untuk membeli beras layak makan. Hah...negara yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, masyarakatnya makan nasi basi? Masya allah...

Woi....pemerintah... dimana kau berada? Dengarkanlah jeritan kami....


Note:
Perkiraan dari Bank Dunia seperti yang dikutip oleh Liputan 6 SCTV, jumlah rakyat miskin di Indonesia sudah mendekati angka 75 juta. Berarti hampir sepertiga masyarakat kita yang lebih dari 200 juta jiwa ini adalah masyarakat miskin. Speechless...

Foto : www.kabblitar.go.id

Disclaimer : Semua tulisan di blog ini adalah pendapat pribadi dan tidak mengatasnamakan siapa pun dan institusi mana pun

Designed by Posicionamiento Web