Mengerucutnya kepemilikan media televisi di Indonesia


Sempat melihat acara ulang tahun “Semarak 12 Tahun” Indosiar tadi malam ? Apa pendapat anda? Kalau saya, kesan yang tertangkap adalah acara ulang tahun kali ini bagi stasiun yang sudah cukup lama berkiprah di Indonesia, sangatlah jauh dari image megah dan glamour. Tidak beda jauh dengan acara-acara variety show yang rutin diadakan oleh Indosiar seperti Gebyar BCA, Pesta dan sejenisnya. Bandingkan saja dengan acara ulang tahunnya “Penta5” TransTV yang menginjak usia ke-5 baru-baru ini. TransTV dengan berani menyewa Plenary Hall di JCC Senayan yang harga sewanya saja sangat mahal sekali dan masih ditambah dengan menghadirkan bintang-bintang yang sedang ngetop saat ini. Meski di Indosiar juga menampilkan artis-artis top juga seperti Ungu, Ratu dsb, namun penyelenggaraan acara yang hanya diadakan di studio, menunjukkan bahwa “ada apa-apa di Indosiar”. Indikasi lain bahwa ada efisiensi tayangan glamour di Indosiar terlihat ketika malam pergantian tahun 2006 yang barusan saja kita lewati. Ketika beberapa stasiun lain seperti RCTI menyiarkan acara secara live pergantian detik-detik tahunnya di Ancol yang tentunya dengan biaya yang tidak sedikit, Indosiar cukup puas hanya dengan menayangkan film-film lama yang sudah basi. Ada apa dengan Indosiar ?

Dari informasi yang saya dapat, Indosiar sedang mengalami masalah pendanaan ternyata. Oleh sebab itu, mereka harus mengencangkan ikat pinggang, jika ingin tetap eksis di blantika pertelevisian Indonesia. Banyak pekerja-pekerja handal mereka dibajak dan lari ke stasiun teve lain. Selain itu, banyak sekali karyawannya yang dirumahkan. Kebetulan, salah seorang teman baru di kantor saya adalah korban dari “PHK massal” Indosiar tersebut. Dia sempat bercerita banyak tentang kondisi terakhir di Indosiar. Sempat heran juga, bagaimana bisa sebuah perusahaan yang hebat, besar dan dapat menguntungkan puluhan milyar sebelumnya seperti Indosiar, sekarang kondisinya berbalik 180 derajat dengan merugi bahkan sampai merumahkan karyawannya seperti ini?


Rumor santer yang beredar, Indosiar sedang didekati oleh Group Para (Trans Corp) yakni Chairul Tanjung cs untuk diakuisisi seperti TV7 (sekarang Trans7). Nampaknya Trans Corp belum puas dengan hanya menguasai TV7 saja. Bila rumor ini benar adanya, peta persaingan televisi di Indonesia bisa jadi sekarang hanya dikuasai 3-4 pemilik saja. Grup Anteve salah satunya. Mereka sekarang juga sudah membeli sebagian sahamnya Lativi milik A Latif Corporation. Diyakini sebentar lagi, saham mereka pasti akan menjadi mayoritas di Lativi. SCTV konon juga sudah bergabung dengan JakTV, stasiun TV lokal yang cukup populer di Jabotabek. Raksasa media terakhir tentu saja, MNC Group yang memayungi RCTI, Global TV dan TPI (bagi yang memakai Indovision, dapat menikmati tayangan tambahan dari channel MNC Group yakni, MNC News dan MNC Entertainment).


Apa implikasi bergabungnya kepemilikan media ini? Menurut kacamata saya, kecendurungan ini mengkhawatirkan untuk ke depannya. Salah satunya kekhawatiran yang ada di kepala saya adalah kemungkinan terjadinya arus informasi yang disetir oleh segelintir orang atau pemilik modal. Padahal, kita nyaris sepakat bahwa media memiliki kekuatan yang luar biasa untuk membentuk opini publik. Contoh paling gampang adalah kasus Lapindo. Apakah Grup Anteve berani memberitakan habis-habisan kasus yang terjadi disana disaat kepemilikan medianya masih dipegang oleh you know who-lah. Inilah bahayanya jika media sampai dikuasai oleh segelintir orang dan itu-itu saja. Lebih berbahaya lagi bila segelintir orang tersebut juga menjadi elit politik di lingkaran kekuasaan yang bisa mendikte arus informasi seperti apa yang akan dikehendakinya.

Kekhawatiran saya terjadi pada puncaknya per tanggal 1 Januari 2007 kemarin. Lativi semenjak tanggal tersebut tidak bisa lagi dinikmati oleh pelanggan Indovision (bukannya saya sok kaya dengan berlangganan Indovision ini. Kebetulan daerah rumah saya di pemukiman padat di daerah Kemayoran, tidak bisa menerima sinyal televisi dengan baik akibat banyaknya bangunan tinggi dan cengkeraman BTS menara seluler yang sepertinya, makin menjamur saja. Sinyal televisi yang tertangkap antena UHF bisa sangatlah jelek dan terpaksalah saya harus berlangganan Indovision. Kenapa tidak Kabelvision? Karena komplek perumahan saya dianggap bukan daerah elit yang menguntungkan oleh manajemen Kablevision. Nasib). Perang ini melanjutkan perseteruan sebelumnya yakni pada saat pelanggan Indovision tidak dapat melihat tayangan dari Star Grup (Star Sport dsb) yang akhirnya memaksa pemerintah turun tangan langsung untuk mengakhiri perseteruan ini. Lativi yang dibeli oleh Anteve yang notabene milik Star Grup, akhirnya tidak bisa tayang juga di Indovision sebagai akibat imbas dari perseteruan ini. Demikian sebaliknya juga dengan pelanggan Astro yang dekat dengan Star Grup. Mereka tidak dapat menikmati siaran dari MNC Grup akibat saling black list siaran yang terjadi. Indovision seperti kita tahu, sangat dekat dengan grup MNC. Artinya, sekarang saya dan beberapa pelanggan televisi berbayar itu, hanya bisa menikmati informasi dari stasiun tv nasional beberapa saja. Informasi sudah diatur dan dikotak-kotakkan oleh sekelompok pemilik media yang itu-itu saja. Saya pernah mengajukan komplain secara tertulis via email ke Indovision mengenai hal ini. Seperti biasa, email saya tidak direspon sama sekali. Sigh…

Dengan kondisi seperti ini, sekali lagi yang dirugikan adalah pemirsa televisi Indonesia. Dalam hal ini adalah kita. Hal ini tidak akan terjadi jika kepemilikan media bisa di-share oleh banyak orang dan banyak pemilik. Tentu, akan lebih sulit mengatur arus informasi yang kepemilikannya beragam, bukan ? Terkait dengan hal ini, yang patut diwaspadai ke depannya adalah Pemilu 2009. Bagaimana kalau kepemilikan media yang mengerucut ini, dimanfaatkan oleh golongan atau partai tertentu untuk kepentingan membentuk opini yang menguntungkan bagi mereka sendiri ?. Lagi-lagi, saya hanya bisa berharap, semoga kekhawatiran ini tidak akan terjadi. Yah..semoga…

16 comments:

Andana said...

Barangkali kita harus dukung kampanye "TURN OFF TV, TURN ON LIFE" dari www. tvturnoff.org. Bagi saya pribadi yang sudah jarang nonton TV, rasanya hidup ini terasa lebih nyaman, cukup waktu untuk untuk hal-hal lain yang lebih berarti dibanding nongkrongin sinetron yang sebagian besar melecehkan logika.

oon said...

bener memang, nanti tv swasta dikuasai 1/bbrp orang saja...orang asing lagi xixixi...
*mlongo deh

adhisimon said...

... Kekhawatiran saya terjadi pada puncaknya per tanggal 1 Januari 2006. Lativi semenjak tanggal tersebut tidak bisa lagi dinikmati oleh pelanggan Indovision ...

Salah tahun tuh mas.. belum biasa nulis 2007 ya mas? ;-)

cahyo said...

@andana
turn on sudah pasti di jam kerja. soalnya jam kerja kan ga mungkin nonton tv.

@oon
sudah siap?

@adhisimon
wah betul...thanks atas kecermatannya. langsung aku edit deh.

pipit said...

Gimana kalau bikin internet tv aja.
Nanti buat yang tanpa "campur tangan" :)

Abe Poetra said...

An-TEVE tidak hanya punya Bakrie Mas Cahyo. Separuh sahamnya punya Rupert Murdoch yang RAJA MEDIA itu.

Murdoch juga yang punya Star-TV. Coba perhatikan (indovision) lambang AnTEVE dan StarTV lambangnya juga sama. Kemaren kesepakatannya AnTEVE tanggalkan logo lama dan pakai logo StarWorld Groups!

rio said...

Too Much TV will kill u.

Rock d World!
rio_nisafa

Herman Saksono said...

Kalau mau bangkrut dan tutup sih mungkin tidak, tapi kalau duitnya seret mungkin. AFI yang heboh itu saja sudah dibatalkan (highcost kali ya?), tau deh sekarang program flagshipnya apa. Sayang, padahal dulu Indosiat programmingnya invatif dan down-to-earth.

Penguasaan pasar oleh segelintir pihak, menurut saya sepertinya sudah wajar terjadi. Ini jadi salah ketika ada main blacklist siaran seperti itu. Pemerintah sebagai regulator seharusnya mengaturnya supaya konsumen tidak dirugikan.

Abe: Selain memiliki ANtv dan StarNetwork, Rupert Murdoch juga pemiliki FOX, yang FOXNews-nya sangat bias ke Bush dalam Perang Irak kemarin. :)

-tikabanget- said...

@ Herman :

AFI emang kelewatan..
Dan kalo seret kan berujung ke ngos-ngosan..
Kalo ngos-ngosan, pegawai berkualitas mulai langka, tinggal tunggu orang nawar ajah..

amdzaky said...

Setuju dengan Rio 'Rock The World' Nisafa 2 Much TV Will Kill Us

ario dipoyono said...

wah orang Amerika DESOOO... anget yah, masak Bali dikira negara.

asep said...

Media seperti tipi memang berpengaruh besar dalam membentuk opini publik, untung saja saya nga punya tipi :D

Anang said...

saya ga punya tv bagaimana ini hehe... :D

snydez said...

lagi ngebayangin indosiar dibeli transcorp jadi
tranindo apa transiar :D :D

oot:
payah banget sih tv7 dirubah jadi trans7 ..

auliahazza said...

pernah baca di online koran, tapi lupa koran yang mana. Menurut berita disana, indosiar itu salah strategi karena membuat sinetron or apalah soal mistik. Salah strategi aja. jadi bangkrut

ibunyaima said...

Emang AFI kenapa kelewatan, Mas?

Anyway.. SCTV, Indosiar, dan Metro TV kan yang masih single fighter ya? Tampaknya memang dunia pertelevisian itu bukan mainnya single fighters. Pasti terjepit di antara yang sudah bergabung. Ongkos produksi kalau dibagi 2 atau 3 kan lebih murah, dan acaranya bisa lebih tersegmentasi.

Disclaimer : Semua tulisan di blog ini adalah pendapat pribadi dan tidak mengatasnamakan siapa pun dan institusi mana pun

Designed by Posicionamiento Web