Susahnya mencari lembaga zakat yang transparan & accountable

Setiap bulan, saya dan isteri mengeluarkan zakat mal. Sesuai yang diwajibkan dalam agama kami, islam, hanya 2,5 % dari total penghasilan kami sebulan. Dalam hal ini, kami sebisa mungkin tidak akan melupakan kewajiban yang satu ini. Zakat, bagi kami sebagai salah satu sarana mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya kepada kami. Dalam kondisi sekarang, kami merasa cukup, tidak lebih dan tidak kurang atas semua yang telah diberikan oleh-Nya. Percaya atau tidak, dengan rutin berzakat ini, kami selalu diberikan banyak rezeki yang tidak terduga datangnya. Ulama kondang yang sering muncul di televisi pun sering mengatakan tentang hal ini dimana-mana. Bahkan ada sebagian ulama lagi yang mengatakan bahwa zakat yang kita berikan tersebut, dapat memperpanjang umur dan menjauhkan kita dari segala macam musibah yang mungkin akan ditimpakan kepada kita. Wallahu alam bi shawab.

Pada awal kami berzakat, kami mempercayakan pada sebuah lembaga amil zakat yang sangat kondang di kota kelahiran kami, Jogjakarta. Cabangnya juga ada di kota-kota besar lain. Pada awalnya, kinerja lembaga tersebut bagus. Setahun sekali melaporkan laporan keuangan dan perkembangan anak asuhnya. Namun lama kelamaan, jika kami tidak menagih dan meneleponnya secara langsung dari Jakarta, laporan tersebut tidak pernah disampaikan kepada kami. Sampai pada akhirnya, saya dan isteri akhirnya memutuskan tidak lagi menggunakan lembaga amil zakat tersebut. Bukan bermaksud berburuk sangka terhadap lembaga tersebut sebenarnya. Saya yakin lembaga tersebut 1001 % dapat dipercaya. Namun transparansi yang kami inginkan nampaknya belum bisa dipenuhi oleh lembaga tersebut dalam memberikan laporan rutin tahunan atas penyaluran uang yang kami berikan kepada mereka untuk disalurkan kepada yang berhak. Daripada tidak sreg, kami memutuskan untuk mencari sarana lainnya dalam menyalurkan zakat yang menjadi kewajiban kami tersebut.

Selanjutnya kami meminta tolong kepada ayah saya di Jogja untuk mencarikan panti asuhan yang kira-kira kondisinya masih memprihatinkan dan perlu dibantu. Alhamdulillah, dapat. Sebut saja panti asuhan XYZ. Singkat kata, saya berhasil mendapatkan no rekening ketua/pemilik panti asuhan tersebut. Kami pun mencoba mentransfer ke rekening yang diberikan. Ketika kami konfirmasi bahwa kami sudah mentransfer ke rekening yang telah diberikan (kebetulan kok ya rekening pribadi), jawaban dari bapak panti asuhan tersebut adalah terima kasih. Sudah itu saja. Tanpa mengecek kami ini siapa dan darimana pengirimnya. Lebih menyedihkan lagi, sama sekali tidak ada laporannya, apakah uang kami sudah diterima atau belum dan sudah diberikan untuk apa dsb. Mohon maaf, sekali lagi bukan kami tidak percaya pada bapak ketua tersebut. Kami hanya ingin akuntabilitas dan transparansi dalam penyaluran uang yang akan kami berikan. Terlebih lagi, mengapa rekening pribadi yang digunakan dan diberikan kepada kami untuk tempat penampungan sumbangan dari para donatur tersebut? Lagi-lagi kami tidak sreg dengan yang kedua ini.

Terakhir di bulan ini, ibu saya memberikan informasi, bahwa lembaga yang dimaksud sudah ditemukan. Kebetulan, guru mengaji ibu saya tersebut terlibat langsung di dalamnya. Lembaga tersebut siap untuk terbuka dan memberikan laporan penyaluran zakatnya secara rutin kepada kami. Mudah-mudahan, yang terakhir ini, kami bisa sreg dan merasa mantap memberikan sebagian rezeki kami disana. Amin.


Foto : www.islam-relief.com

9 comments:

Muhammad Rivai said...

Bisa coba DD mas, Dompet Dhuafa Republika. Pengalaman saya, pengurusnya cukup profesional & amanah.

Rendahnya kepedulian pada akuntabilitas memang menjadi masalah bagi kemajuan lembaga agama mas. Mungkin mereka benar mengelolanya, tapi jadi kurang baik imagenya. Ditambah lagi, hal ini bisa menjadi fitnah dan bahan olok-2 mengenai ketidakmampuan lembaga Islam menerapkan prinsip akuntabilitas, sesuatu yang sangat ditekankan oleh Al-Amin, Nabi Muhammad SAW.

Fany said...

Hmm.. kalo saya sih memang lebih sreg juga kalo menyalurkan sendiri (walau jarang2, biasanya di-rapel :p).
Misalnya sambil maen2 ke panti asuhan mana, beliin beras, susu, dsb.. gitu2 deh. Rasanya kok lebih tentram gt..

cahyo said...

@ rivai vavai
iya mas..kalo yang terakhir ini belum bener juga, aku coba DD deh. thanks atas inputnya.
kegelisahanku juga sama mas. kenapa umat islam untuk pada umumnya manajemen dan profesionalitasnya sangat lemah sekali ya? makanya, saya tidak menyalahkan jika kesadaran orang akan membayar zakat rendah sekali di negara kita (apalagi pajak). dalam benak mereka "jangan-jangan duitnya dipakai yang gak bener lagi". memang tidak mampu atau tidak mau?

@ fany
sebenarnya saya punya pikiran demikian mbak. cuma kebetulan posisi saya kerja di jakarta. inginnya, zakat kami tersebut dapat digunakan di daerah dan tidak hanya mengalir di jakarta saja. saya pikir, di jakarta relatif sudah banyak yang peduli. makanya saya agak tidak enak juga merepotkan ayah dan ibu saja. makanya, kalo ada kesempatan pulang ke jogja, saya manfaatkan benar untuk menyalurkan secara langsung, sama seperti mbak fany.

raffaell said...

Iya yah, untungnya penghasilan ku ngga gede gede amat, jadi aku suka langsung ngasih ke orang yang mbutuhkan aja, lebih mudah kayaknya kl harus transfer2 an

Yudhis said...

Informasi yang menarik. Jadi masukan juga buat kita disini. Terima kasih sudah ditulis di blog anda, jadinya kita bisa ikutan baca :)

-f said...

kalo gw itungan setaon sekali yo, agak berat memang. pas idul fitri gw bayar zakat mal di kampung. soalnya belum ada yang ngurus permanen dan gw ingin berbagi sedikit rezeki dengan orang kampung.

gw setuju, bayar zakat itu perlu!

Brahmasta said...

wah, bener juga ya mas, tapi karena saya belum berpenghasilan jadi belum ngeluarin zakat. hehe..
Btw, setuju sama fany, lebih tentram menyalurkan langsung, misalnya beliin makanan ke panti asuhan gitu, ngadain buka bareng.. selain itu bisa meningkatkan silaturahmi

mr.bink said...

Ane juga sering ke DD, tapi cuman untuk infaq aja karena belum wajib zakat belum berpenghasilan tetep., masih miskin.huehuehue....

-tikabanget- said...

^_^
Bener juga ya..
Tiap bulan otomatis gajiku dipotong sih buat zakat..
Tapi gak pernah ngecek tuh duit lari kemana..
Pecaya aja pokoknya..

Mungkin emang harus ada transparansi biar lebih tenang ya..

Disclaimer : Semua tulisan di blog ini adalah pendapat pribadi dan tidak mengatasnamakan siapa pun dan institusi mana pun

Designed by Posicionamiento Web