Opa, bersabarlah...

Kami memanggilnya dengan Opa. Entah siapa nama lengkapnya. Tubuhnya yang ringkih dan terlihat tidak sehat itu selalu setia berjalan tertatih-tatih dengan tongkat penopangnya. ¼ langkah demi ¼ selangkah. Tidak lebar memang, dikarenakan penyakit yang menderanya. Meski tinggal disamping persis rumah saya, tidak banyak yang saya ketahui dari Opa. Bukannya saya tidak mau peduli. Tapi saya tidak terlalu mau mencampuri urusan orang lain. . Sedikit yang saya ketahui, opa ini tinggal bersama salah seorang putra dan pembantunya. Sesekali, serombongan orang datang ke rumahnya bersama anak dan isterinya. Sepertinya, itu merupakan keluarga besar Opa. Selain itu, tidak banyak yang saya ketahui tentang Opa. Tapi kalau ketemu, saya pasti menyapanya.

Keterkejutan terjadi pagi tadi ketika saya hendak berangkat kantor. Tiba-tiba opa menghampiri saya. Terjadilah dialog seperti ini :

Opa (dgn suara lirih) : Mau pinjam uang 50 ribu boleh??

Saya : Boleh. Kalau boleh tahu, untuk apa Opa?

Opa : Untuk berobat ke dokter. Opa lagi sakit.

Saya : Sakit? Sakit apa Opa?

Opa : Sakit maag.Opa makannya ga teratur dan sering telat.

Isteri saya datang begitu mengetahui ada Opa di depan rumah saya.

Isteri saya : Ada apa mas? (bertanya pada saya)

Saya : Ini, opa mau pinjam duit untuk berobat ke dokter. 50 ribu saja katanya

Isteri : Ya sudah, diberikan saja mas.

Bergegas saya menghampiri Opa kembali.

Saya : Ini Opa uangnya. Cukupkah 50 ribu ini?

Opa : Sebenarnya ga cukup. Berobat ke dokter sekarang mahal. Seharusnya (butuhnya) 100 ribu.

Saya : Ya sudah, saya pinjami 100 ribu saja Opa. Nggak papa kok.

Isteri saya menyerahkan kekurangan 50 ribuan ke saya, untuk diberikan ke Opa.

Saya : Opa ini uangnya. Mudah-mudahan bisa membantu.

Opa : (terdiam sambil menangis terisak)

Saya : Sudahlah Opa. Opa tidak usah menangis. Opa sudah makan?

Opa : Belum. Opa belum makan. Kalau makan Opa jajan. Makanya, uangnya (pensiun) sering habis.

Saya : Lho, kenapa tidak makan di rumah Opa. Kan ada masnya (putranya maksud saya) dan pembatu di rumah yang siap memasak buat Opa?

Opa : (masih sambil menangis). Mereka semua durhaka. Penjahat semua.

Seketika saya tercenung. Tidak bisa berkata apa-apa. Kasihan sekali dikau, opa. Namun, detik itu juga, sejenak saya baru tersadar kalau, hari sudah siang. Waktu menunjukkan pukul 07.32 WIB. Ups..kalau tidak segera berangkat kerja, bisa telat lagi nih, pikir saya . Saya tuntun opa masuk ke dalam rumah saya sambil saya beri dukungan ke beliau dengan menganggap saja saya anaknya dan silakan anggap juga di rumah sendiri. Saya tawari opa makan dan beliau mengangguk. Segera saya minta pembantu di rumah melayani opa sebaik-baiknya. Saya minta ijin ke opa kalau tidak bisa menemani terlalu lama karena saya harus segera ngantor.


Sambil mengendarai motor ke kantor, saya berbincang dengan isteri saya mengenai kejadian tadi. Isteri saya cerita, dia memang sudah mendengar mengenai ketidakcocokan opa dengan anaknya. Tapi baru kali ini dia mendengarnya secara langsung pagi tadi. Tapi apa yang pantas, bapak mereka sendiri yang sudah membesarkan mereka, anak-anaknya, tersebut tidak memperhatikan kelangsungan hidup sehari-hari opanya sendiri ?? Padahal secara kasatmata saya lihat, rumah mereka tidaklah jelek-jelek amat dan memiliki mobil. Logikanya secara finansial, mereka pasti mampu. Ah..sudahlah. Biarlah itu menjadi urusan keluarga mereka sendiri. Sepanjang opa membutuhkan bantuan dari saya dan isteri, kami akan membantunya sekuat tenaga. Subhanallah... semoga opa diberikan kesabaran oleh-Nya dan juga diberi kekuatan untuk menjalaninya. Amin.


Moral of the story :
Selagi masih memiliki orang tua, jaga-pelihara dan muliakanlah orang tua anda. Jangan sampai disia-siakan seperti opa. Ingat, beliau yang melahirkan dan membesarkan anda. Jangan sampai anda durhaka kepadanya


17 comments:

beta said...

Walaupun Ayah saya termasuk ortu yang keras, namun waktu beliau meninggal saya menyesal merasa belum bisa memperlakukan beliau dengan baik.

Pun ketika adik saya meninggal November 2006 ini, saya merasa belum tuntas menyampaikan kasih sayang.

Jadi kalau orang barat bilang, "You dont know what you have 'till its gone", saya merasa, "Seberapa panjang usia orang-orang yang kita kasihi, selalu saja kita belum merasa telah mengasihinya sepenuh hati." Selalu ada rasa sayang yang tertinggal di dada.

Untuk itu, saya selalu menyarankan (dan mempraktikkan) untuk mengungkapkan betapa cintanya kita terhadap orang-orang yang kita sayangi. Jangan sampai terlambat mengucapkannya.

Lebih-lebih lagi kepada orangtua.. Wah nggak ilang-ilang nyeselnya..

wandira said...

koq ada ya anak anak spt itu, mereka korban sinetron apa sinetron yang menggambarkan kehidupan di masyarakat ?

dudi said...

kota besar gitu loh™ coba liat kalo di desa-desa. jarang sekali kejadian kaya begitu. mungkin itu anaknya udah dibutakan mata dan hatinya dengan duniawi. terharu saya baca tulisan ini.

sutrisno mahardika said...

hari ini ayah saya ulang tahun, :)
cara saya membalas kebaikan nya saat ini cuma bisa berdoa. supaya bisa tetep sehat! banyek rejeki tentunya :P

cahyo said...

@ beta
setuju mas beta

@ wandira
penggemar sinetron nih mas? hehehe

@ dudi
apa hanya di kota besar aja ya mas? saya pernah baca tulisan, seorang anak tega membunuh bapak kandungnya gara-gara warisan. itu terjadi di kota kecil lho.

@ sutrisno
berbahagialah ortu yang punya anak seperti mas sutrisno ini.

andriansah said...

Gak percaya kalo ini terjadi..

Tapi orang tua itu hanya satu, bahagiakanlah orang tua kita, kalau tidak bisa, sayangilah orang tua, kalau tidak bisa juga doakanlah orang tua.

Saya tinggal mama saya, papa saya meninggal agustus 2006 kemarin, dan saya sedih tidak bisa ngasih liat cucu nya dari saya yg InsyaAllah lahir juni 2007

auliahazza said...

Sama orangtua, baik bapak dan ibu jangan terlalu pelit, nanti kena batunya. Misalnya kalau punya rezeki baik sedikit atau banyak dikasihlah orangtua. Jangan sampai orangtua itu meminta-minta dulu pada kita. Terus jangan pelit sama orangtua, kan ga berkurang kok uang kita. Kalau pelit nanti rezeki kita berkurangnya lebih banyak. Terus jangan main hitung-hitungan sama orangtua. Pokoknya cepat atau lambat kalau kita tidak memperlakukan orangtua kita dengan baik, kualat deh.. dijamin pasti...

achedy said...

Alhamdulillah, orang tua saya termasuk orang tua yang sangat baik kepada saya, dan berkorban banyak hal untuk anak-anaknya. Saya sangat mencintai dan menghormatinya meskipun secara materi saya belum bisa memberi nya sesuatu yg berharga.

Fany said...

Hmm.. prihatin juga ya ada keluarag seperti itu.
"muliakan ortu" itu kadang gampang2 susah.
Menuruti keinginan ortu yang sebenernya bukan keinginan kita, itu susah banget. Tapi insyaAllah kalo niat ortu memang baik hasilnya juga baik... *amin*
-pengalaman pribadi- :D

Ya semoga orang2 yg masih tertutup matanya seperti anak2 si opa itu segera dibukakan mata hatinya.... T_T

M Fahmi Aulia said...

setuju...orang tua sudah susah membesarkan kita saat kecil, masa kita malah mempersusah meski kita sudah besar?

*halah...*

irwan said...

Masya Allah... denger ceritanya cuman bisa ngelus dada... :|

cahyo said...

@ all
pagi tadi, sebelum berangkat ngantor, opa mendatangi saya lagi sambil bilang kalau belum bisa mengembalikan uang yang dipinjamnya, karena 3 hari yang lalu uangnya kecopetan !! what's that?? kasihan sekali dikau opa. lalu saya katakan, tidak apa-apa opa.kapan-kapan saja gak apa. trus opa menangis lagi sambil mengatakan, "biarlah allah yang membalasnya". lalu saya tanyakan," opa sudah sarapan".dijawab, belum. Berapa butuhnya opa? Opa menjawab lima ribu lalu saya kasih 10 ribu. Dan opa pun menangis lagi....:-(

wandira said...

mas cahyo, mas tahu no hp anak si Opa nggak?, kalo kenal sms-in dia untuk ngecek blog mas cahyo ini. Kalo perlu pake private number .

cahyo said...

@ wandira
thanks atas inputnya mas. cuma, anaknya ini di kampung saya kurang bergaul dengan warga sekitar. orangnya juga susah dan kelihatannya agak kaku. saya pernah ngobrol sekali dan penilaian saya memang begitu. makanya, opa ini juga mau berhubungan sama saya kalau tidak diketahui oleh anaknya. kayaknya meski satu rumah, mereka ini bermusuhan. heran juga saya..:-(

didats said...

*bingung mo komen apa*

jadi kaya cerita sinetron ya.
ini cerita sinetron diambil dari kisah nyata,

atau

kisah nyata ini nyontek sinetron?

aribowo said...

ceritanya kayak di sinetron aja.

Paman Tyo said...

Teganya ya...

Ada lagi kasus, seorang anak tunggal, budak narkoba, terus-terusan menguras menguras harta ibunya yang janda miskin. Bahkan setiap kali orang lain kasih duit ke ibu itu, pasti bakal jatuh ke anak...

Disclaimer : Semua tulisan di blog ini adalah pendapat pribadi dan tidak mengatasnamakan siapa pun dan institusi mana pun

Designed by Posicionamiento Web