Indahnya hidup di Jakarta (Bagian 1)

Jumat pagi kemarin,2/01/2007, hujan deras mengguyur Jakarta semalaman. Sampai saya berangkat pagi tadi, hujan lebat belum berhenti. Feeling saya, pasti banjir nih jalanan (dan seperti yang kita lihat berita di berbagai media, jakarta lumpuh total akibat banjir). Saya putuskan untuk mengistirahatkan Honda Karisma kesayangan yang sudah setia menemani saya selama 3 tahun terakhir ini berangkat dan pulang ngantor. Pilihan yang paling nyaman dan rasional dalam kondisi hujan deras seperti ini (dan dipastikan banjir ataupun macet) adalah naik busway. Kebetulan jalur busway melewati seberang rumah saya dan tentunya melewati seberang kantor saya di daerah Daan Mogot Jakarta Barat.

Tepat pukul 06.45 WIB, saya keluar dari rumah menuju halte Galur Jakarta Pusat. Perjalanan lancar. Tidak ada hambatan yang berarti. Setengah jam kemudian, busway yang saya pakai sudah tiba di halte Central Harmoni. Di sinilah saya harus berganti atau transfer jalur ke koridor dua yang menuju ke kantor. Bergegas saya pindah menuju ke antrian busway koridor 2 yang menuju Kalideres. Alamak !!! antriannya sudah 200 meter lebih. Duh, gimana nih. Naik bis biasa atau tetap ikut antrian panjang ini. Salah seorang penumpang menyarankan tetap saja ikut antrian tersebut karena bis biasa sedikit yang jalan karena banjir. Akhirnya, saya ikuti antrian busway yang panjang tersebut.

Mula-mula bis berjalan lancar. Namun begitu memasuki Jl. Tomang Raya, antrian sangat panjang. Jalan macet total rupanya. Waduh…ada apa nih. Ternyata banjir besar menggenangi jalan. Tingginya setinggi ban bis besar. Saya lihat dari dalam bis, tanggul di sepanjang Banjir Kanal Barat ternyata jebol dan tumpah ke rumah dan jalan, termasuk ke Jalan Tomang Raya yang saya lewati pagi kemarin. Melihat tingginya air yang menggenangi jalanan, otomatis mobil-mobil pribadi dan motor pada ngeper dan langsung putar arah. Inilah yang menyebabkan semrawut dan macet yang sangat panjang. Dari dalam Bis Transjakarta, saya sempat memotret ketinggian banjir di Jl. Tomang Raya ini dengan kamera HP Sony Ericsson K 510i sbb :


Satu lagi ini :


Saya lihat, jarum jam menunjukkan pukul 07.45 WIB. Bis hanya bisa merayap pelan sepanjang jalan Tomang Raya karena jalur khusus busway juga dipakai oleh bis umum biasa (non busway) dan mobil pribadi yang nekat menerobos banjir. Kadang-kadang malah berhenti lama. Alhasil, jarak dari Jl. Tomang Raya ke Fly Over Tomang (kira-kira sekitar 1 km), ditempuh dalam waktu 1 jam. Sampai di Fly Over Tomang, bis berhenti total selama sekitar 3/4 jam. Dari dalam bis, saya lihat banyak penumpang bis biasa turun di Fly Over ini. Nampaknya mereka tidak sabar dan kelihatan kegerahan karena bis tidak ber-AC. Sementara, para penumpang busway yang sudah tidak sabar, juga ikut turun, meski tidak di halte. Sopir bisnya juga tanggap. Mereka memperbolehkan penumpangnya turun, meski tidak di halte. Supaya tidak melompat dari pintu tengah yang biasa dibuka ketika di halte, sopir membukakan pintu bagian depan. Suasana agak lega. Para penumpang yang tidak turun, memilih tidur karena kebetulan bisnya dilengkapi dengan AC yang sangat dingin. Suasananya, seperti ini :

Saya sendiri, memilih mengobrol dengan teman kanan kiri saya sepanjang terjebak macet tersebut.

Bis masih merayap perlahan. Begitu masuk ke jalur busway di depan Mal Taman Anggrek, lagi-lagi di depan dan di belakang bis Transjakarta yang saya tumpangi ini, sudah ada mobil pribadi dan bis biasa yang masuk ke jalur busway. Fotonya seperti ini :



Lagi-lagi, saya harus menunggu lama di jalur jalan ini. Sementara, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.45 WIB (hihihi..sudah pasti teerlambat datang di kantor). Pelan tapi pasti, bis berjalan menuju halte selanjutnya yaitu halte Grogol. Ternyata di depan Citraland juga banjir !!!. Tingginya kira-kira sama dengan yang di Jl. Tomang Raya sebelumnya. Berikut foto-fotonya.

dan ini :




Sekitar pukul 11.00 WIB tiba di halte busway Grogol. Saya lihat, halte bis biasa, juga tergenang banjir. Fotonya berikut ini :


Di halte ini, sopir bis dan kru Busway mengumumkan kalau bis hanya sampai di halte Indosiar dan tidak sampai di tujuan akhir yaitu Kalideres karena banjir. Banyak penumpang yang bersungut-sungut dengan pengumuman ini. Mereka mencoba berdebat dengan sopir. Tapi sopir tetap berkeras bahwa bis hanya sampai di halte Indosiar. Untunglah tujuan akhir saya memang di sini. Jadi tidak ada masalah. Saya pun turun beberapa meter sebelum halte dan mengabadikan pompa bensin di seberang Indosiar yang terendam banjir seperti berikut ini :

Saya lihat, jarum jam menunjukkan pukul 11.45 WIB. Gila !!, berarti perjalanan yang biasanya saya tempuh dengan naik motor hanya setengah jam, sekarang ini saya tempuh empat jam lebih. Perjalanan terlama selama ke kantor selama 6 tahun tinggal di Jakarta !!. Saya pun bergegas menuju kantor. Halah, kantor kok sepi?? Hanya ada beberapa orang saja yang kelihatan. Sialan, ternyata banyak yang nggak masuk hari ini gara-gara banjir. Big Bos saya pun ternyata juga tidak masuk. Tahu gitu, saya juga tidak masuk juga. Huh !!! (-bersambung-)

13 comments:

bapakeghozan said...

alhamdulillah....
kebetualan saya kerja di ndeso...wilayah timur jakarta....
ngga kena macet mas.

smoga hari ini lebih baik.

salam kenal,
bapakeghozan

cahyo said...

@ bapake ghozan
masih banjir di tomang dan roxy sabtu pagi ini. sebenarnya mau ngantor sebentar, tapi pulang lagi gara-gara air masih tinggi. sayang motornya..;-)

salam kenal juga pak..:-D

JaF said...

Waduh, kotaku tercinta.. Bener2 memprihatinkan..

Iman Brotoseno said...

kota yang terus membangun..( tapi lupa membuat sistem drainase yang ironisnya bekas peninggalan belanda )

M Fahmi Aulia said...

6 jam?hoahahah...makanya, bermotor itu lebih asooyy...hihihi..kualat ama Karismanya tuh..:p

btw, perjalanan terlama di jakarta, saya alami tahun 2004.suasananya mirip, hujan deras+banjir. Rute tanah abang-wijaya ditempuh selama 6jam. Untungnya pake sopir...jadi saya bisa tidur...hihihi...

Anang said...

banjir kok indah

aRdho Saja said...

aduuh.. jakarta.. :(

andri said...

banjir...banjir...banjir....udah rutin tapi tetep aja gak bisa diatasi

-may- said...

Banjir? Gitu aja kok repot. Itu kan cuma "fenomena alam" yang tidak bisa diapa2kan. Ditunggu surut saja...

*dzigh!*

auliahazza said...

kayaknya nyesek ya pak.. udah berjam-jam seperti "tua dijalan" pas sampai dikantor ga ada orang :(

Luigi said...

Moga2 si banjir bisa cepet surut dan bisa pulih kembali yah.. ironisnya kita2 di Monrovia.. udah kekeringan sekali..sampai semua jalan-jalan retak2 dan berdebu :)

Didoain dari sini agar banjir segera berlalu...

gaussac said...

sudah waktunya ibu kota harus pindah tempat nih...istana aja hampir kebanjiran gitu kalo ga ditahan-tahan...

eny UII said...

baru kali ini saya melakukan perjalanan terjauh dari blok M menuju bandara soekarno hatta selama 14 jam,....kejadiannya sore hari jumat tgl 1 februari 2008 jkt kembali banjir,...saya pikir masih bisa dilewati,...yes ternyata macet sudah mulai di slipi jaya.....berangkat dari blok M jm 4sore, sampe bandara cengkareng jm 6pagi,...allhamdulilah pesawat dilay dan lgs berangkat jm 7 pagi,...rasa badan, aduh capeknya,....

Disclaimer : Semua tulisan di blog ini adalah pendapat pribadi dan tidak mengatasnamakan siapa pun dan institusi mana pun

Designed by Posicionamiento Web