Pasar tradisional dan jeritan rakyat kecil

Minggu kemarin, seperti biasanya, saya berbelanja ke pasar tradisional. Sendiri saya menuju pasar. Ya..sendiri. Kalau tidak naik sepeda onthel (sekalian berolahraga), kadang saya naik motor. Meski saya laki-laki, saya tidak malu untuk berbelanja ke pasar becek, yang identik dengan perempuan itu.
Seminggu sekali saya berbecek-becek ria di pasar seperti ini untuk berbelanja kebutuhan kami (saya, isteri dan satu orang PRT di rumah) selama satu minggu. Biasanya memang saya hanya sekedar mengantarkan isteri saja dan saya hanya kebagian tugas membawakan hasil belanjaan tersebut untuk dibawa pulang ke rumah. Semenjak hamil tua sekarang ini, tugas ini saya ambil alih sepenuhnya dan memberikan kesempatan pada isteri untuk beristirahat banyak di rumah. Jangan heran, saya jadi berapa harga udang, daging sapi, telur per kilonya dsb. Hohoho....![]()
Ada beberapa alasan mengapa saya memilih belanja langsung ke pasar. Salah satunya adalah harganya lebih murah dan barang yang tersedia lebih segar. Fresh. Langsung dari penjualnya. Hal ini yang sangat jarang saya dapatkan dari penjual sayur keliling yang sering lewat di depan rumah. Selain itu, dengan berbelanja langsung di pasar tradisional, saya juga dapat langsung berinteraksi dengan masyarakat kecil dan mendengarkan keluh kesah mereka. Terkait dengan ini, ada satu kejadian yang cukup membuat saya berkerut kening ketika hendak membeli rempeyek teri kesukaan saya dan isteri, di pasar kemarin. Berikut petikan pembicaraan saya dengan penjual rempeyek tersebut yang kebetulan orang jawa dan saya juga diajak bicara dengan bahasa Jawa (muka saya sudah cukup ndeso kali ya, jadi walau bicara dengan bahasa Indonesia, dijawab dengan bahasa Jawa) :
Saya :
Berapa harganya per bungkusnya bu?
Ibu penjual :
Sewu wae mas ( Seribu saja mas)
Saya :
Wah, kok larang, ora limang atus wae bu?
(Wah, kok mahal. Tidak lima ratus saja bu) ?
Ibu penjual :
Halah mas..opo-opo ki saiki larang.
Minyak larang, opo-opo larang.
Pengene aku ki yo murah wae. Nek larang ngene ki,
ora ono sing gelem tuku.
Mending aku bathine sithik ra popo, sing penting dagangan enthek.
Kudune pemerintah ki iso gawe kabeh rego murah.
Saiki arep dagang opo-opo susah. Piye tho iki mas?
Beras larang, minyak larang...
(Halah mas..apa-apa sekarang mahal. Minyak mahal, semua mahal.
Maunya saya sih juga murah. Kalau mahal begini tidak ada yang mau beli.
Mending saya untungnya sedikit tidak apa-apa, yang
penting dagangan habis. Harusnya pemerintah bisa
bikin semua harga murah.Sekarang mau usaha apa saja susah.
Gimana sih ini mas. Beras mahal,minyak mahal.....)
Saya :
(tersenyum kecut).Yo wis bu, tuku 5 bungkus wae.
(Ya sudah bu, beli lima bungkus saja).
Well, kenaikan harga kebutuhan pokok sekarang ini memang gila-gilaan.
Orang yang berpenghasilan tetap seperti saya saja, imbasnya juga terasa sekali di kantong. Biasanya, saya berbelanja kebutuhan pokok di pasar becek ini cukup dengan 100 ribu saja untuk satu minggu, sekarang tidaklah cukup dan harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Bagaimana dengan mereka yang berpenghasilan kecil dan tidak seberapa, seperti ibu penjual rempeyek tersebut dengan meroketnya harga barang-barang sekarang ini ? Oleh sebab itu, jangan heran kalau banyak berita yang menyebutkan, banyak rakyat kita sekarang yang makan nasi aking atau nasi basi karena tidak memiliki uang untuk membeli beras layak makan. Hah...negara yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, masyarakatnya makan nasi basi? Masya allah...![]()
Woi....pemerintah... dimana kau berada? Dengarkanlah jeritan kami....![]()
Note:
Perkiraan dari Bank Dunia seperti yang dikutip oleh Liputan 6 SCTV, jumlah rakyat miskin di Indonesia sudah mendekati angka 75 juta. Berarti hampir sepertiga masyarakat kita yang lebih dari 200 juta jiwa ini adalah masyarakat miskin. Speechless...
Foto : www.kabblitar.go.id
2:00 PM | Labels: Opini, politik | 14 Comments
Mengerucutnya kepemilikan media televisi di Indonesia
Sempat melihat acara ulang tahun “Semarak 12 Tahun” Indosiar tadi malam ? Apa pendapat anda? Kalau saya, kesan yang tertangkap adalah acara ulang tahun kali ini bagi stasiun yang sudah cukup lama berkiprah di Indonesia, sangatlah jauh dari image megah dan glamour.
Tidak beda jauh dengan acara-acara variety show yang rutin diadakan oleh Indosiar seperti Gebyar BCA, Pesta dan sejenisnya. Bandingkan saja dengan acara ulang tahunnya “Penta5” TransTV yang menginjak usia ke-5 baru-baru ini. TransTV dengan berani menyewa Plenary Hall di JCC Senayan yang harga sewanya saja sangat mahal sekali dan masih ditambah dengan menghadirkan bintang-bintang yang sedang ngetop saat ini. Meski di Indosiar juga menampilkan artis-artis top juga seperti Ungu, Ratu dsb, namun penyelenggaraan acara yang hanya diadakan di studio, menunjukkan bahwa “ada apa-apa di Indosiar”. Indikasi lain bahwa ada efisiensi tayangan glamour di Indosiar terlihat ketika malam pergantian tahun 2006 yang barusan saja kita lewati. Ketika beberapa stasiun lain seperti RCTI menyiarkan acara secara live pergantian detik-detik tahunnya di Ancol yang tentunya dengan biaya yang tidak sedikit, Indosiar cukup puas hanya dengan menayangkan film-film lama yang sudah basi. Ada apa dengan Indosiar ? ![]()
Dari informasi yang saya dapat, Indosiar sedang mengalami masalah pendanaan ternyata. Oleh sebab itu, mereka harus mengencangkan ikat pinggang, jika ingin tetap eksis di blantika pertelevisian Indonesia. Banyak pekerja-pekerja handal mereka dibajak dan lari ke stasiun teve lain. Selain itu, banyak sekali karyawannya yang dirumahkan. Kebetulan, salah seorang teman baru di kantor saya adalah korban dari “PHK massal” Indosiar tersebut. Dia sempat bercerita banyak tentang kondisi terakhir di Indosiar. Sempat heran juga, bagaimana bisa sebuah perusahaan yang hebat, besar dan dapat menguntungkan puluhan milyar sebelumnya seperti Indosiar, sekarang kondisinya berbalik 180 derajat dengan merugi bahkan sampai merumahkan karyawannya seperti ini?
Rumor santer yang beredar, Indosiar sedang didekati oleh Group Para (Trans Corp) yakni Chairul Tanjung cs untuk diakuisisi seperti TV7 (sekarang Trans7). Nampaknya Trans Corp belum puas dengan hanya menguasai TV7 saja. Bila rumor ini benar adanya, peta persaingan televisi di Indonesia bisa jadi sekarang hanya dikuasai 3-4 pemilik saja. Grup Anteve salah satunya. Mereka sekarang juga sudah membeli sebagian sahamnya Lativi milik A Latif Corporation. Diyakini sebentar lagi, saham mereka pasti akan menjadi mayoritas di Lativi. SCTV konon juga sudah bergabung dengan JakTV, stasiun TV lokal yang cukup populer di Jabotabek. Raksasa media terakhir tentu saja, MNC Group yang memayungi RCTI, Global TV dan TPI (bagi yang memakai Indovision, dapat menikmati tayangan tambahan dari channel MNC Group yakni, MNC News dan MNC Entertainment).
Apa implikasi bergabungnya kepemilikan media ini? Menurut kacamata saya, kecendurungan ini mengkhawatirkan untuk ke depannya. Salah satunya kekhawatiran yang ada di kepala saya adalah kemungkinan terjadinya arus informasi yang disetir oleh segelintir orang atau pemilik modal. Padahal, kita nyaris sepakat bahwa media memiliki kekuatan yang luar biasa untuk membentuk opini publik. Contoh paling gampang adalah kasus Lapindo. Apakah Grup Anteve berani memberitakan habis-habisan kasus yang terjadi disana disaat kepemilikan medianya masih dipegang oleh you know who-lah.
Inilah bahayanya jika media sampai dikuasai oleh segelintir orang dan itu-itu saja. Lebih berbahaya lagi bila segelintir orang tersebut juga menjadi elit politik di lingkaran kekuasaan yang bisa mendikte arus informasi seperti apa yang akan dikehendakinya.
Kekhawatiran saya terjadi pada puncaknya per tanggal 1 Januari 2007 kemarin. Lativi semenjak tanggal tersebut tidak bisa lagi dinikmati oleh pelanggan Indovision (bukannya saya sok kaya dengan berlangganan Indovision ini. Kebetulan daerah rumah saya di pemukiman padat di daerah Kemayoran, tidak bisa menerima sinyal televisi dengan baik akibat banyaknya bangunan tinggi dan cengkeraman BTS menara seluler yang sepertinya, makin menjamur saja. Sinyal televisi yang tertangkap antena UHF bisa sangatlah jelek dan terpaksalah saya harus berlangganan Indovision. Kenapa tidak Kabelvision? Karena komplek perumahan saya dianggap bukan daerah elit yang menguntungkan oleh manajemen Kablevision. Nasib). Perang ini melanjutkan perseteruan sebelumnya yakni pada saat pelanggan Indovision tidak dapat melihat tayangan dari Star Grup (Star Sport dsb) yang akhirnya memaksa pemerintah turun tangan langsung untuk mengakhiri perseteruan ini. Lativi yang dibeli oleh Anteve yang notabene milik Star Grup, akhirnya tidak bisa tayang juga di Indovision sebagai akibat imbas dari perseteruan ini. Demikian sebaliknya juga dengan pelanggan Astro yang dekat dengan Star Grup. Mereka tidak dapat menikmati siaran dari MNC Grup akibat saling black list siaran yang terjadi. Indovision seperti kita tahu, sangat dekat dengan grup MNC. Artinya, sekarang saya dan beberapa pelanggan televisi berbayar itu, hanya bisa menikmati informasi dari stasiun tv nasional beberapa saja. Informasi sudah diatur dan dikotak-kotakkan oleh sekelompok pemilik media yang itu-itu saja. Saya pernah mengajukan komplain secara tertulis via email ke Indovision mengenai hal ini. Seperti biasa, email saya tidak direspon sama sekali. Sigh…
Dengan kondisi seperti ini, sekali lagi yang dirugikan adalah pemirsa televisi Indonesia. Dalam hal ini adalah kita. Hal ini tidak akan terjadi jika kepemilikan media bisa di-share oleh banyak orang dan banyak pemilik. Tentu, akan lebih sulit mengatur arus informasi yang kepemilikannya beragam, bukan ? Terkait dengan hal ini, yang patut diwaspadai ke depannya adalah Pemilu 2009. Bagaimana kalau kepemilikan media yang mengerucut ini, dimanfaatkan oleh golongan atau partai tertentu untuk kepentingan membentuk opini yang menguntungkan bagi mereka sendiri ?. Lagi-lagi, saya hanya bisa berharap, semoga kekhawatiran ini tidak akan terjadi. Yah..semoga…
8:26 AM | Labels: televisi | 16 Comments
Susahnya mencari lembaga zakat yang transparan & accountable
Setiap bulan, saya dan isteri mengeluarkan zakat mal. Sesuai yang diwajibkan dalam agama kami, islam, hanya 2,5 % dari total penghasilan kami sebulan. Dalam hal ini, kami sebisa mungkin tidak akan melupakan kewajiban yang satu ini. Zakat, bagi kami sebagai salah satu sarana mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya kepada kami. Dalam kondisi sekarang, kami merasa cukup, tidak lebih dan tidak kurang atas semua yang telah diberikan oleh-Nya. Percaya atau tidak, dengan rutin berzakat ini, kami selalu diberikan banyak rezeki yang tidak terduga datangnya. Ulama kondang yang sering muncul di televisi pun sering mengatakan tentang hal ini dimana-mana. Bahkan ada sebagian ulama lagi yang mengatakan bahwa zakat yang kita berikan tersebut, dapat memperpanjang umur dan menjauhkan kita dari segala macam musibah yang mungkin akan ditimpakan kepada kita. Wallahu alam bi shawab.
Pada awal kami berzakat, kami mempercayakan pada sebuah lembaga amil zakat yang sangat kondang di kota kelahiran kami, Jogjakarta. Cabangnya juga ada di kota-kota besar lain. Pada awalnya, kinerja lembaga tersebut bagus. Setahun sekali melaporkan laporan keuangan dan perkembangan anak asuhnya. Namun lama kelamaan, jika kami tidak menagih dan meneleponnya secara langsung dari Jakarta, laporan tersebut tidak pernah disampaikan kepada kami.
Sampai pada akhirnya, saya dan isteri akhirnya memutuskan tidak lagi menggunakan lembaga amil zakat tersebut. Bukan bermaksud berburuk sangka terhadap lembaga tersebut sebenarnya. Saya yakin lembaga tersebut 1001 % dapat dipercaya. Namun transparansi yang kami inginkan nampaknya belum bisa dipenuhi oleh lembaga tersebut dalam memberikan laporan rutin tahunan atas penyaluran uang yang kami berikan kepada mereka untuk disalurkan kepada yang berhak.
Daripada tidak sreg, kami memutuskan untuk mencari sarana lainnya dalam menyalurkan zakat yang menjadi kewajiban kami tersebut.
Selanjutnya kami meminta tolong kepada ayah saya di Jogja untuk mencarikan panti asuhan yang kira-kira kondisinya masih memprihatinkan dan perlu dibantu. Alhamdulillah, dapat. Sebut saja panti asuhan XYZ. Singkat kata, saya berhasil mendapatkan no rekening ketua/pemilik panti asuhan tersebut. Kami pun mencoba mentransfer ke rekening yang diberikan. Ketika kami konfirmasi bahwa kami sudah mentransfer ke rekening yang telah diberikan (kebetulan kok ya rekening pribadi
), jawaban dari bapak panti asuhan tersebut adalah terima kasih. Sudah itu saja. Tanpa mengecek kami ini siapa dan darimana pengirimnya. Lebih menyedihkan lagi, sama sekali tidak ada laporannya, apakah uang kami sudah diterima atau belum dan sudah diberikan untuk apa dsb. Mohon maaf, sekali lagi bukan kami tidak percaya pada bapak ketua tersebut.
Kami hanya ingin akuntabilitas dan transparansi dalam penyaluran uang yang akan kami berikan. Terlebih lagi, mengapa rekening pribadi yang digunakan dan diberikan kepada kami untuk tempat penampungan sumbangan dari para donatur tersebut? Lagi-lagi kami tidak sreg dengan yang kedua ini.
Terakhir di bulan ini, ibu saya memberikan informasi, bahwa lembaga yang dimaksud sudah ditemukan. Kebetulan, guru mengaji ibu saya tersebut terlibat langsung di dalamnya. Lembaga tersebut siap untuk terbuka dan memberikan laporan penyaluran zakatnya secara rutin kepada kami. Mudah-mudahan, yang terakhir ini, kami bisa sreg dan merasa mantap memberikan sebagian rezeki kami disana. Amin.
Foto : www.islam-relief.com
8:20 AM | Labels: agama, kisah | 10 Comments
Opa, bersabarlah...
Kami memanggilnya dengan Opa. Entah siapa nama lengkapnya. Tubuhnya yang ringkih dan terlihat tidak sehat itu selalu setia berjalan tertatih-tatih dengan tongkat penopangnya. ¼ langkah demi ¼ selangkah. Tidak lebar memang, dikarenakan penyakit yang menderanya. Meski tinggal disamping persis rumah saya, tidak banyak yang saya ketahui dari Opa. Bukannya saya tidak mau peduli. Tapi saya tidak terlalu mau mencampuri urusan orang lain. . Sedikit yang saya ketahui, opa ini tinggal bersama salah seorang putra dan pembantunya. Sesekali, serombongan orang datang ke rumahnya bersama anak dan isterinya. Sepertinya, itu merupakan keluarga besar Opa. Selain itu, tidak banyak yang saya ketahui tentang Opa. Tapi kalau ketemu, saya pasti menyapanya.
Keterkejutan terjadi pagi tadi ketika saya hendak berangkat kantor. Tiba-tiba opa menghampiri saya. Terjadilah dialog seperti ini :
Opa (dgn suara lirih) : Mau pinjam uang 50 ribu boleh??
Saya : Boleh. Kalau boleh tahu, untuk apa Opa?
Opa : Untuk berobat ke dokter. Opa lagi sakit.
Saya : Sakit? Sakit apa Opa?
Opa : Sakit maag.Opa makannya ga teratur dan sering telat.
Isteri saya datang begitu mengetahui ada Opa di depan rumah saya.
Isteri saya : Ada apa mas? (bertanya pada saya)
Saya : Ini, opa mau pinjam duit untuk berobat ke dokter. 50 ribu saja katanya
Isteri : Ya sudah, diberikan saja mas.
Bergegas saya menghampiri Opa kembali.
Saya : Ini Opa uangnya. Cukupkah 50 ribu ini?
Opa : Sebenarnya ga cukup. Berobat ke dokter sekarang mahal. Seharusnya (butuhnya) 100 ribu.
Saya : Ya sudah, saya pinjami 100 ribu saja Opa. Nggak papa kok.
Isteri saya menyerahkan kekurangan 50 ribuan ke saya, untuk diberikan ke Opa.
Saya : Opa ini uangnya. Mudah-mudahan bisa membantu.
Opa : (terdiam sambil menangis terisak)
Saya : Sudahlah Opa. Opa tidak usah menangis. Opa sudah makan?
Opa : Belum. Opa belum makan. Kalau makan Opa jajan. Makanya, uangnya (pensiun) sering habis.
Saya : Lho, kenapa tidak makan di rumah Opa. Kan ada masnya (putranya maksud saya) dan pembatu di rumah yang siap memasak buat Opa?
Opa : (masih sambil menangis). Mereka semua durhaka. Penjahat semua.
Seketika saya tercenung. Tidak bisa berkata apa-apa. Kasihan sekali dikau, opa. Namun, detik itu juga, sejenak saya baru tersadar kalau, hari sudah siang. Waktu menunjukkan pukul 07.32 WIB. Ups..kalau tidak segera berangkat kerja, bisa telat lagi nih, pikir saya
. Saya tuntun opa masuk ke dalam rumah saya sambil saya beri dukungan ke beliau dengan menganggap saja saya anaknya dan silakan anggap juga di rumah sendiri. Saya tawari opa makan dan beliau mengangguk. Segera saya minta pembantu di rumah melayani opa sebaik-baiknya. Saya minta ijin ke opa kalau tidak bisa menemani terlalu lama karena saya harus segera ngantor.
Sambil mengendarai motor ke kantor, saya berbincang dengan isteri saya mengenai kejadian tadi. Isteri saya cerita, dia memang sudah mendengar mengenai ketidakcocokan opa dengan anaknya. Tapi baru kali ini dia mendengarnya secara langsung pagi tadi. Tapi apa yang pantas, bapak mereka sendiri yang sudah membesarkan mereka, anak-anaknya, tersebut tidak memperhatikan kelangsungan hidup sehari-hari opanya sendiri ??
Padahal secara kasatmata saya lihat, rumah mereka tidaklah jelek-jelek amat dan memiliki mobil. Logikanya secara finansial, mereka pasti mampu. Ah..sudahlah. Biarlah itu menjadi urusan keluarga mereka sendiri. Sepanjang opa membutuhkan bantuan dari saya dan isteri, kami akan membantunya sekuat tenaga. Subhanallah... semoga opa diberikan kesabaran oleh-Nya dan juga diberi kekuatan untuk menjalaninya. Amin.
Moral of the story :
Selagi masih memiliki orang tua, jaga-pelihara dan muliakanlah orang tua anda. Jangan sampai disia-siakan seperti opa. Ingat, beliau yang melahirkan dan membesarkan anda. Jangan sampai anda durhaka kepadanya
8:07 AM | | 17 Comments









