Mobil tercepat, termahal dan paling powerfull di dunia
Versi rediff.com inilah mobil tercepat, termahal dan paling powerfull di seluruh dunia.
Kecepatan bisa lebih dari 407 km/jam, dan dapat berlari dari 0 sampai 62 meter/jam hanya dalam waktu 2.5 detik !! Wuuuuuuuzzzzzz................Harganya $1.4 million cing !!! (alamak, ga kebayang?$#%)
4:03 PM | Labels: Otomotif | 12 Comments
Susahnya mencari nama anak (laki-laki)

Memberi nama pada anak merupakan kewajiban yang harus harus dilakukan oleh orang tuanya terutama suami. Saya, yang ditugaskan oleh isteri (sedang mengandung anak kami,7 bulan) untuk mencari nama yang pas dan tentunya mempunyai arti yang bagus, sampai dengan sekarang masih kesulitan memenuhi amanah tersebut. Sudah ada beberapa kandidat sebenarnya yang ada di benak kepala, namun sampai sekarang kok masih merasa belum ada yang sreg di hati.
Menurut dokter, anak kami diperkirakan laki-laki (mudah-mudahan perkiraan dokter ini benar). Meski kelak jika diberikan anak perempuan pun, kami akan menerima dengan suka cita. Masalahnya, perkiraan dokter kan belum tentu benar. Namanya juga manusia. Bisa saja perkiraan laki-laki namun setelah lahir ternyata perempuan. Hal ini terjadi pada kakak saya dulu. Empat kali di-USG, dokter bilang laki-laki, eh...setelah lahir ternyata perempuan. Padahal nama yang disiapkan sudah untuk laki-laki. Alhasil, kakak saya pun segera mencari nama untuk perempuan, meski dadakan. Oleh sebab itu, saya pun harus siap menyiapkan dua buah nama, bila tidak ingin repot di kemudian hari. Satu nama untuk laki-laki dan satu nama untuk perempuan. Ternyata sulit juga ya mencari nama yang pas. Kesulitan itu sangat terasa bila mencari nama laki-laki. Sungguh... relatif lebih gampang mencari nama anak perempuan. Ternyata, teman-teman saya yang sudah punya anakpun bercerita demikian. Lebih gampang mencari nama untuk perempuan, kata mereka.
Kesulitan ini bertambah bila mengikuti saran dari mas Andry S Huzain yang berpendapat sebaiknya memberi nama dengan ejaan yang mudah dan mengindonesia. Hmm...saya pikir, ada benarnya juga nih.... ;-D
Keinginan saya dan isteri, kelak nama anak kami ada unsur nama Jawa (karena kami berdua orang jawa), ada unsur islamnya (karena kami berdua muslim) dan ada unsur romawinya (hehehehe...biar kelihatan cantik dan keren aja ). Mudah-mudahan kami bisa menemukan nama yang pas dan sesuai saran mas Andry di atas yakni ejaannya mudah dan mengindonesia, namun tetap memenuhi 3 kriteria di atas. Ada usulan nama??
Foto :
http://www.happy-baby.hu
12:05 PM | Labels: Anak | 21 Comments
Bertemu teman lama berkat Internet

Saya mengenal internet pertama kali semasa masih kuliah. Sekitar tahun 1995. Pada awal-awal itu, masih pengguna internet masih dapat dihitung dengan jari. Kebetulan, kampus saya pada waktu itu, memberikan akses internet dengan biaya yang murah bagi mahasiswanya. Kalau tidak salah, Rp. 20.000/bln. Dengan biaya sebesar itu, saya mendapat alamat email dan koneksi unlimited, jika diakses dari kantor provider di kampus. Semenjak saat itu, saya pun terbiasa menggunakan semua fasilitas yang tersedia di internet. Bahkan, internet sudah menjadi kebutuhan yang penting buat saya.
Meski sudah mengenal teknologi komunikasi yang revolusioner ini sejak lama, saya masih terkagum-kagum dengan pesatnya perkembangan teknologi ini. Banyak teman-teman yang merasakan manfaat perkembangan internet yang luar biasa ini. Dari sekedar hobi sampai menghasilkan uang. Bahkan pekerjaan seperti yang dialami oleh mas Didats, tetangga saya satu kecamatan :-D. Saya sendiri belum sampai ke arah itu yakni memanfaatkan internet untuk menghasilkan uang atau malah mencari pekerjaan baru. Namun manfaat yang baru saja terasa dan tidak dapat dihargai dengan apapun dengan adanya internet ini adalah saya bisa berhubungan lagi dengan teman-teman SD saya yang telah lama berpisah sejak tahun 1989 atau lebih dari 17 tahun !!!
Semua berawal dari teman SD saya, Doni Alamsyah yang googling via internet mengetikkan nama saya, Nurul Wibawa Cahya Buana dan menemukan homepage jadul (jaman dulu) saya. Kebetulan di homepage saya tersebut ada nomer telepon yang bisa dihubungi. Singkat kata, teman main bola sejak SD ini selanjutnya menghubungi saya via telepon dan mengobrollah kami lama. Pada saat itu, nomer teleponnya saya simpan di hape lama saya. Namun entah kenapa, nomernya tercecer hilang entah kemana. Sampai disini, hubungan saya dengan Doni, terputus total lagi.
Sampai suatu saat, selepas Hari Raya Idul Fitri kemarin, inbox friendster saya tiba-tiba ada sebuah pesan dari seseorang yang bernama Arum. Ketika saya buka, ternyata teman SD saya ! Olala, betapa senangnya bisa ketemu dengan teman saya itu. Selanjutnya kita saling bertukar hape, email dan Yahoo Messenger. Semenjak itu, kami sering berkirim pesan melalui media tersebut sampai akhirnya berujung pada kegelisahan yang sama : kenapa tidak kopi darat saja sekalian, mumpung sekalian masih dalam suasana lebaran. Akhirnya melalui sarana Friendster, SMS dan telepon, kami berhasil mencari jejak-jejak teman ‘nakal’ kita dulu. Nah, kontak dengan teman saya Doni ini kembali kembali terhubung berkat adanya internet. Semenjak keteledoran saya menghilangkan nomor telepon Doni, saya tidak bisa lagi menghubungi dia lagi. Untungnya, teman saya itu sempat mengucapkan keywords yang cukup berharga untuk dicari via googling “Bekerja sebagai pengacara dan berkantor di Wisma Pondok Indah”. Dari keywords tersebut, saya berhasil menemukan kembali teman lama saya. Pencarian teman-teman yang lain dilanjutkan kembali namun bukan saya sendiri yang bekerja. Sampai akhirnya, terkumpul beberapa orang meski tidak bisa seluruhnya. Dari sekitar 54 teman SD seangkatan kami dulu, hanya berhasil mendapatkan jejak sekitar 20 orang saja. Namun kami tetap bergembira dan yakin, suatu saat mudah-mudahan bisa terkumpul semua. Sampai akhirnya pada hari Minggu, 26 November 2006 kemarin kami bisa reuni kecil-kecilan dengan teman-teman SD dulu di Plasa Semanggi Jakarta. Kami mengobrol panjang dan tertawa bersama mengingat kegilaan dan bernostalgia masa-masa indah dulu di SD tercinta, SD Ungaran 2 Yogyakarta. Sungguh, suatu kesan mendalam setelah berpuluh tahun kami tidak pernah bertemu.
Sekali lagi, saya kagum dan berterima kasih dengan internet yang dapat mempersatukan kami kembali setelah berpuluh tahun tidak pernah bertemu….
8:30 AM | Labels: Internet | 15 Comments
Smack down : ciaaaaat..... !!!!

Melihat tayangan acara Smack Down yang rutin ditayangkan di stasiun televisi Lativi, menurut ukuran saya, sangatlah mencemaskan. Adegan kekerasan yang dipertontonkan atau dipertunjukkannya meski menurut sumber hanyalah kamuflase semata, namun apa yang terpapar di depan televisi, kesannya tetaplah mengerikan. Lawan dibanting, dipukul dengan kursi, dilempar keluar ring dsb, sungguh sangatlah mengerikan. Tayangan di televisi ini diperparah dengan adanya game di PS 2 yang juga memainkan Smack Down ini. Bagaimana jadinya bila tontonan dan game ini dilihat oleh anak yang masih di bawah umur dan tidak mengerti bahwa adegan itu tidaklah boleh ditiru???
Kekhawatiran saya terjadi. Keponakan saya yang baru kelas 3 SD, sering mempraktekkan adegan Smack Down yang sering dilihat di televisi ini pada adiknya. Tanpa kira-kira dan perhitungan lagi. Akibatnya adiknya ini sering menjadi korban kakaknya dan menangis dengan keras karena kesakitan. Bagi mereka, susah diberikan pengertian bahwa acara smack down di televisi hanyalah tipuan atau kamuflase belaka dan tidaklah boleh ditiru. Kekhawatiran saya ini juga dirasakan oleh salah seoarang pembaca Kompas yang menuliskannya di Redaksi Yth, Rabu 22/10/2006 kemarin. Berikut kutipannnya :
Bahaya Tayangan "Smack Down"
Anda tentu ingat tayangan salah satu stasiun TV swasta nasional (Paranoid) digugat oleh korbannya. Atau mainan pistol anak-anak yang banyak mencederai mata karena peluru plastik yang bertekanan tinggi. Dua contoh tersebut adalah karya yang sebenarnya berhasil memancing minat masyarakat, tetapi sekaligus berdampak nyata.
Isu terakhir adalah diharamkannya infotainment yang menyebar rahasia/aib pribadi para selebriti. Saat ini ada satu tayangan stasiun TV swasta nasional yang memancing minat pemirsa sangat tinggi, tetapi sekaligus membawa dampak nyata, yaitu Smack Down. Selain melihat Smack Down melalui tayangan TV dengan durasi dan frekuensi yang tinggi, anak-anak secara langsung juga memainkan tokoh-tokohnya lewat PlayStation. Apa yang terjadi?
Setiap saat kita melihat di depan mata, bagaimana anak-anak melakukan gerakan meniru adegan Smack Down ke teman mainnya di lingkungan rumah maupun sekolah. Hal itu sangat mengkhawatirkan karena gerakan yang ditiru dapat sangat mencederai, bahkan mematikan, misalnya mematahkan, memelintir, membanting, dan membenturkan bagian tubuh temannya.
Saya selalu mengingatkan anak-anak yang berbuat bahwa Smack Down di TV itu gerakan sandiwara sehingga pemainnya tidak cedera/mati. Namun, yang ditiru anak-anak adalah gerakan sungguhan yang sangat berbahaya.
Berlawanan dengan tayangan Fear Factor, misalnya, gerakan di TV sungguhan, tetapi selalu diingatkan untuk tidak meniru. Sudah berapa korban akibat anak-anak menirukan gerakan Smack Down, kita tidak tahu. Namun, kita berharap, justru sebelum banyak korban jatuh hendaknya semua pihak mempertimbangkan kelayakan tayangan acara tersebut. Minimal membatasi tayangan dan memberikan catatan agar tidak meniru.
Rian Ardiwibowo Jalan Flamboyan, Jakarta
Kekhawatiran saya dan rekan pembaca Kompas tersebut, malah sudah menimbulkan korban di Bandung Jawa Barat. Berikut petikannya :
Dengan 'SmackDown', Bocah Bergadai Nyawa
Tubuh pria kekar itu dihiasi tato. Panggilannya, The Undertaker. Lawannya tak kalah kekar. Otot-otot menyembul di hampir seluruh bagian tubuhnya. Lelaki yang memiliki sebutan Triple H itu bergumul dengan si Undertaker.
Adu jotos, saling banting dilakukan kedua pegulat itu di atas ring. Tiba-tiba, tangan Undertaker menggenggam leher lawannya. Bak kapas, badan Triple H diangkat dengan satu tangan. Tak lama kemudian, tubuh Triple H dihempaskan ke atas kanvas ring. Penonton pun bersorak riang.
Kekerasan memang sarat dalam setiap adegan tayangan gulat luar negeri yang biasa disebut SmackDown itu. Bahkan, bisa dibilang, kekerasan yang dilakukan kerap bernuansa ekstrem. Sang lawan memang terlihat kesakitan. Tapi, dia tak apa-apa --tak ada tandu yang diperlukan untuk melarikannya ke rumah sakit. Tak jarang pula, beberapa alat seperti kursi, kayu, hingga palu juga digunakan oleh petarung untuk segera memenangkan pertandingan. Banyak penonton tidak menyadari bahwa semua ini hanyalah trik pertunjukan televisi untuk meraih rating tinggi.
Hal itu pula yang tidak disadari oleh Restu, Iyo, dan Ii, warga Kompleks Banda Asri, Desa Banda Asri, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung. Adegan-adegan dalam SmackDown itu oleh siswa-siwa SMP ini ditiru dan dipraktikkan.
Sebagai lawan, mereka memilih Reza Ikhsan Fadillah (9 tahun), tetangga mereka. Tubuh kecil siswa kelas III SD Cincin I itu mereka banting. Kepalanya dihujamkan ke atas lantai. Tangannya ditekuk, meski Reza mengaduh kesakitan.
''Karena menirukan adegan SmackDown, anak saya meninggal,'' kata Herman Suratman (53). Menurut Herman, satu pekan sebelum Hari Raya Idul Fitri lalu, Reza mengeluhkan tangan kirinya terasa sakit hingga sulit digerakkan. Tapi, Reza tidak mengaku penyebab sakit itu.
Tapi, selama satu pekan, rasa sakit itu semakin menjadi. Pada Rabu (25/10), satu hari setelah Idul Fitri, Herman melarikan anaknya ke Rumah Sakit Daerah (RSD) Soreang. Tapi, RSD Soreang mengaku tidak memiliki peralatan memadai.
Reza dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Dari hasil rontgen, diketahui tulang pangkal lengan kiri Reza terpisah. Urat di tangan kirinya pun diketahui terjepit tulang. Selain itu, Reza juga mengalami cedera di bagian dalam kepala.
Reza lalu dirawat di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) sebelum dipindahkan ke ruang ICU RSHS. Selama sepekan hingga Kamis (2/11). ''Tapi, karena tidak sembuh juga, saya memaksa membawa Reza ke Cianjur, ke tukang urut tulang,'' ujar Herman.
Kondisi Reza mulai membaik. Tapi, itu tidak lama. beberapa hari kemudian, kondisi Reza kembali parah. Saat teman-teman Reza menengok ke rumah, Herman baru mengetahui bahwa penyebab sakitnya Reza adalah adegan SmackDown yang dipraktikkan Restu, Iyo, dan Ii.
Menurut Herman, ketiga anak itu sudah mengakuinya. Pada hari itu juga, Rabu (15/11), Herman langsung melaporkan ketiga anak itu ke polisi. Tapi, dia tak bisa terlalu memerhatikan hasil penyelidikan polisi. Pada Kamis (16/11), kondisi Reza bertambah parah. ''Reza meninggal dalam pangkuan saya,'' ujar pria ini dengan berlinang air mata.
Atas kejadian ini, Herman telah meminta kepada Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Agus Yasmin, dan Bupati Bandung, Obar Sobarna, untuk menyurati Lativi, yang menayangkan tayangan SmackDown ini.
Dia mengaku enggan jika harus menuntut Lativi. Pasalnya, kalaupun gugatannya dimenangkan pengadilan, dia hanya memperoleh ganti rugi. ''Sedangkan yang saya khawatirkan, jangan sampai anak-anak yang lain mengalami nasib serupa seperti Reza,'' kata dia.
Trauma tak hanya dialami Herman. Para pengajar di SD Cincin I langsung melarang siswa didiknya untuk menirukan adegan-adegan SmackDown. ''Seruan itu kami sampaikan setiap pagi di setiap kelas,'' kata Kepala Sekolah Cincin I, Nendi Rohendi.
Untuk menghapus gambaran mengenai SmackDown, pihak sekolah juga merazia pedagang yang kerap menjual gambar-gambar yang ada sangkut pautnya dengan acara itu.
Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Bandung, Denni Rukada, mengatakan, program acara SmackDown tidak layak ditayangkan lagi. Selain Reza, masih banyak anak-anak di Kabupaten Bandung yang menjadi korban. ''Hampir setiap dua hari sekali, tukang urut yang ahli membetulkan tulang, selalu mendapat pasien anak-anak. Mereka juga menjadi korban karena bermain SmackDown,'' ujar dia.
Selain menuntut tayangan SmackDown itu dihentikan, Denni juga meminta petugas kepolisian untuk menyita seluruh VCD ataupun DVD, serta CD playstation SmackDown.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, Dadang Rahmat Hidayat, mengaku sudah memberikan surat teguran keras kepada Lativi. ''Kami akan berusaha lebih intensif lagi supaya tayangan ini dihentikan,'' ujar dia.
Menurut dia, secara substansi acara ini memperlihatkan tayangan yang sadis. Sedangkan secara isi, tayangan yang penuh dengan muatan entertainment ini ditayangkan pada pukul 21.00 WIB. Harusnya, kata dia, acara yang hanya layak ditonton orang dewasa, ditayangkan lebih malam lagi.
Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Sinansari ecip, mengaku sudah mendengar perihal peristiwa menyedihkan itu. Untuk itulah, kata dia, KPI akan memanggil pihak Lativi pekan depan.
Merujuk pada Undang-Undang Penyiaran, Ecip menyatakan, tayangan SmackDown sebenarnya sudah melanggar pasal 36 tentang penayangan kekerasan di layar televisi. ''Dalam tayangan tersebut terlihat darah, aksi menendang, hingga menghantam lawan dengan kursi. Menurut saya semua itu sudah tergolong pada penayangan kekerasan secara terbuka di TV,'' paparnya.
Manajer Humas Lativi, Raldy Doy, belum mendengar rencana pemanggilan KPI. Namun, ia mengaku sudah mendengar kabar tewasnya bocah di Bandung yang diduga tewas terkait dengan tayangan SmackDown itu. Menurut dia, Lativi pun berencana mengecek kebenaran kabar tersebut. ''Kita akan melakukan investigasi bersama juga.''
Sementara itu berdasarkan keterangan tertulis melalui surat elektronik yang dikirimkan Raldy kepada Republika, tayangan SmackDown merupakan murni program hiburan. Selanjutnya lagi, layaknya film atau telenovela, SmackDown ini dilakukan sesuai skrip. Semua omongan dan gerakan, kata dia juga, berdasarkan skrip yang mesti dihafal. ''Sedangkan gerakan-gerakan 'kasar' yang diperlihatkan dilaksanakan terlebih dahulu oleh para profesional yang sudah berlatih lama.''
Kemudian juga, Raldy mengatakan, sebagai tindakan preventif agar adegan di SmackDown tidak diikuti maka host selalu menyampaikan agar jangan menirukan semua adegan di rumah. ''Begitu juga kami menampilkan running text serta logo 'Bimbingan Orang tua (BO)' agar orang tua selalu mendampingi anak-anaknya saat menonton tayangan ini,'' ujarnya.
(rfa/akb )
Menurut teori komunikasi yang pernah saya dapat di bangku kuliah dulu, apapun tayangan televisi yang dilihat oleh pemirsa, pasti memiliki dampak atau efek meskipun kecil.
Artinya, tayangan seperti Smack Down ini, pasti memberikan efek bagi pemirsanya sehingga harus segera dihentikan oleh pihak-pihak yang memiliki power untuk menghentikannya. Sebagai langkah preventif, anda dan orang tua yang memiliki anak kecil, matikanlah acara Smack Down ini dan jauhkanlah anak anda dari game seperti ini. Ataukah, kita harus menunggu korban lagi.... ???? :-(
Tautan :
- http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=272629&kat_id=3
- http://www.kompas.com/kompas-cetak/0611/22/opini/3107417.htm
12:02 PM | Labels: Opini | 9 Comments








